Selasa, 20 Mei 2014

Metode Pengumpulan Data Teknik Observasi Psikodiagnostik



Sumber : Kerlinger Lee

A.  Observasi
A.1. Pengertian Observasi
Adalah cara sistematis dan selektif yang bertujuan dalam mengamati dan mendengarkan sebuah interaksi atau fenomena saat sedang terjadi (Kerlinger, ).
Observasi dalam pengertian lain diartikan sebagai Metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala objek yang diteliti.
Pengertian sempit
Pengamatan secara langsung terhadap gejala yang diselidiki baik dalam situasi alamiah maupun situasi buatan
Pengertian luas
Termasuk pengamatan yang dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan sebelumnya maupun yang diadakan khusus untuk keperluan tersebut.

Secara keseluruhan observasi dapat diartikan sebagai tehnik mendapatkan data untuk assasement psikologi selain test yang alat indra dari peneliti atau dalam hal ini terapis. Observasi digunakan untuk mendiagnosis prilaku dan variabel psikologis yang tidak bisa diamati oleh alat tes psikologi. Contohnya perilaku subjek tes pada setting alamiah yang memungkinkan tidak bisa terdeteksi oleh alat test.

Hal ini didukung oleh pernyataan Kerlinger Lee () mengenai observasi bahwa observasi ini baik atau efektif dilakukan untuk:
-          Saat ingin mengetahui interaksi suatu kelompok
-          Ingin mengetahui perilaku individu di suatu situasi
-          Ingin mengetahui perilaku dan kepribadian individu di situasi nyata 
-          Ingin mengetahui data yang tidak bisa sepenuhnya dimunculkan lewat pertanyaan.

Selain itu Goodwin & Driscoll (dalam Bentzen, 1993) mengatakan seorang psikolog harus menguasai kemampuan untuk observasi karena  observasi Memungkinkan mengukur perilaku yang tidak dapat dengan alat ukur psikologis lain (contohnya pada anak), ketika Prosedur formal ditanggapi tidak serius (tidak dapat dilakukan), dan yang terahir Lebih tidak mengancam (pada anak lebih akurat) maksudnya adalah ketika instrumen tes tidak mungkin dilakukan pada anak-anak yang mana pada masa ini anak-anak usia pra operasional piaget (dalam Papalia, 2008) masih mengalami perkembangan bahasa dan verbal yang belum kompleks dan masih membutuhkan membutuhkan bantuan supervisi saat memahami tulisan dikatakan observasi lebih efektif dalam memahami dan mendiagnosis perilaku anak pada setting alamiah maupun terkontrol contohnya terkontrol adalah pada saat tes intelegensi weschler yang menggunakan balok, jika test ini dilakukan secara individual peneliti dapat melakukan observasi juga untuk menilai dan mengamati perilaku anak saat menyelesaikan masalah balok.






A.2. hal-hal yang perlu ada dan ketentuan dalam observasi:
Ketentuan observasi
Terdapat beragam hal yang diobservasi, pertama observasi dilakukan  Berdasarkan tujuan variabel yang menjadi target dan ingin diamati, kedua adalah Ekspresi verbal, non verbal, respons verbal/non verbal/perilaku terhadap stimulus, atau kemunculan indikator khusus. Ketiga adalah Level observasi dapat aspek khusus dari perilaku, individu, kelompok, dan situasi/proses. Keempat adalah Waktu (kapan, kecepatan, durasi), lokasi (tempat), penampakan eksterior (cara jalan, berpakaian), gaya bahasa (intonasi, pilihan kata).

Hal-hal yang diobservasi menurut Webb dkk (1966) & Denzin (1970) dalam Observasi Psikodiagnostik Setta W (2014)terdiri dari:
-           Exterior physical signs : pakaian, gaya rambut, sepatu, tato, rumah, perhiasan dll
-          Expressive movements : gerakan-gerakan tubuh seperti gerakan mata, wajah, postur, lengan, senyum, kerutan dahi dll
-          Physical location : perhatikan personal space (ligkungan saat itu individu tinggal) dan lingkungan fisik
-          Language behaviour : bahasa tingkah laku atau bahasa tubuh contohnya adalah menyilangkan kaki.
-          Time duration


A.3. Etika dalam Observasi:
Pertama adalah Privacy subjek, kedua Keamanan subjek, ketiga berdasarkan Persetujuan subjek. Subjek berhak mendapat Perlindungan terhadap kenyamanan dan keamanan terkait anonimitas.
•Proses diseminasi informasi kepada para profesional dan komunitas ilmuwan
•Pencegahan kecuragan dan penipuan terhadap subjek, kelompok atau masyarakat
•Penggunaan oleh dirinya dan pihak lain dengan maksud negatif

A.4. Jenis-Jenis Observasi:
A.4.1. Berdasarkan keterlibatan Peneliti sebagai observer
Secara garis besar observasi terdiri atas observasi partisipan yaitu kita sebagai Observer terlibat langsung dengan kelompok/situasi yang diobervasi; aktif dan yang kedua adalah Non-partisipasi (non-participant) dimana kita sebagai Observer tidak terlibat dengan kelompok/situasi yang diobservasi; pasif (dalam Kerlinger Lee, ).


A.4.2.  Observasi Sistematik

-          Disbt juga observasi terstruktur; ada kerangka yang memuat faktor-faktor dan ciri-ciri khusus dari setiap faktor yang diamati
-          Sistematik : lebihmenekankan pada segi frekuensi dan interval waktu tertentu (misalnya setiap 10 menit)
-          Hal perlu diperhatikan : Isi dan luas observasi lebih terbatas, sesuai rumusan khusus
-          Kelebihan: Memungkinkan respons dan peristiwa dicatat secara lebih teliti, dan mungkin dikuantifikasikan
-          Untuk mengurangi how throne effect Dapat menggunakan one way screen.


A.4.3. OBSERVASI FORMAL DAN INFORMAL (Goodwin & Driscoll, 1980)


-          Observasi formal mempunyai sifat tersruktur yang tinggi, terkontrol dan biasanya untuk penelitian
-          Observasi formal perlu mengidentifikasi definisi secara hati-hati, menyusun data, melatih obsrerver dan menjaga reliabilitas antar rater, pencatatan-analisis-interpretasi menggunakan prosedur yang sophisticated.
-          Observasi in formal mempunyai sifat yang lebih longgar dalam hal kontrol, elaborasi, sifat terstruktur, dan biasanya untuk perencanaan pengajaran dan pelaksanaan program harian. Lebih mudah dan lebih berpeluang untuk digunakan pada berbagai keadaan.
-          Observasi informal sering disebut juga naturalistic observation.

A.5. Hasil Observasi






A.6. Keuntungan dan Kelebihan Observasi

Keuntungan

•Data “nyata“ (perilaku di setting alami) bukan perilaku yang dilaporkan
•- Mungkin untuk diulang
•- Tanpa mengganggu
•- Mudah diakses dan dilakukan
••Baik sebagai sumber data longitudinal

kekurangan

•Distorsi dari data asli, terutama sumber berupa arsip
•- observer effect karena mengharapkan hasil yang sesuai
•- Bias dari subjek --> how throne effect (subjek sadar sedang diamati)


A.7. Strategi Observasi:
     A.7.1. Narrative types

Yaitu pengumpulan (pencatatan) data oleh observer apa adanya sesuai (sama) dengan kejadian dan urutan kejadiannya sebagaimana yang terjadi pada situasi nyata.
A.7.2. Checklist notations

Observer menyusun struktur observasi dengan memilih dan mendefinisikan perilaku sebelum observasi dilaksanakan sehingga ketika observasi tinggal memberi tanda ceklist.
A.7.3. Rating scales
Observer membuat interpretasi terhadap apa yang diamati dan informasi direkam dengan sebagai refleksi dari penilaian observer.




A.8. Checklist
Observer menyusun struktur observasi dengan memilih dan mendefinisikan perilaku sebelum observasi dilaksanakan sehingga ketika observasi tinggal memberi tanda cek. Observer Melihat kehadiran perilaku yang dianggap pentin. Observer Tidak memberikan informasi tentang frekuensi, durasi, dan kualitas perilaku. Observasi bentuk ceklist ini Digunakan pada time sampling, event sampling.

A.8.1. Panduan Ceklist.

Pertama Tentukan tujuan observasi, kedua Tentukan definisi operasional perilaku, ke-tiga Tentukan content perilaku yang akan diobservasi, ke-empat Susun checklist berdasarkan content perilaku sebelum observasi dilakukan, ke-lima Identifikasi secara detail content perilaku, ke-enam Organisasi detail content perilaku harus logis, ke-tujuh Organisasi checklist harus dapat mencapai tujuan : identifikasi, ke-delapan kehadiran/ketidakhadiran target perilaku dan merekam perkembangan kronologis (munculnya ketrampilan tertentu), ke-sembilanGunakan cheklist untuk melihat kehadiran perilaku target.

A.8.2. Tipe Ceklist

-          Static descriptor

Seperangkat aitem yang mendeskripsikan karakteristik subjek atau setting yang relatif stabil : umur, jenis kelamin, ras, status ekonomi, karakteristik lingkungan, dan waktu.

-          Action
Seperangkat aitem yang mendeskripsikan perilaku/tindakan spesifik observee.


A.9. Rating Scale
Prosedur observasi dimana Observer membuat interpretasi terhadap apa yang diamati dan informasi direkam dalam bentuk nilai tertentu (angka) sebagai refleksi dari penilaian observer.





6 FAKTOR POTENSIAL RATER ERRORS

-          Error of leniency
-          Error of central tendency
-          Hallo effect : kesalahan atribusi dari observer karena adanya kesan positif pada testee atau subjek yang menimbulkan harapan perilaku subjek selalu sesuai
-          Error of logic
-          Error of contrast
-          Proximity error: kedekatan.


Kesimpulan
Kesimpulan dari materi ini adalah bahwa observasi merupakan salah satu cara atau metode pengumpulan data selain metode tes yang sudah dibahas yang datanya sifatnya primer  atau langsung dari subjek, teknik ini dengan memanfaatkan indra dari peneliti. Metode observasi ini sangat cocok digunakan untuk mengamati tingkah laku yang tidak mungkin dimunculkan saat tes dan melengkapi hasil dari tes, cocok untuk melihat individu pada situasi manipulasi dan alamiah, namun kekurangannya adalah bias pada subjek yaitu howthrone effect dan bias pada peneliti yang cenderung subjektif dalam melakukan observasi. Jenis observasi ada yang terstruktur/sistematis, partisipan, dan non partisipan. Terdapat prosedur dalam menentukan tipe observasi rating scale, ceklist, dan lain-lain. Kemampuan observasi ini sangat penting dimiliki oleh seorang peneliti guna temukan masalah saat individu atau testee mengerjakan test dan menemukan masalah yang tidak bisa dilaporkan testee melalui tes. Setiap metode memiliki perbedaan kekurangan dan kelebihan tertentu, tidak ada metode yang lebih baik untuk meneliti konstruk psikologis dan tingkah laku menentukan metode itu tergantung pada tujuan dan situasi saat digunakan.



Minggu, 04 Mei 2014

Tes Proyeksi dan Kepribadian


Tes Kepribadian

Theory of Personality berdasarkan beberapa Ahli

1.      Goldon Alport
Alport dalam Feist & Feist (2010) menjelaskan mengenai kepribadian adalah organisasi dinamis yang terdiri dari sistem psikofisis yang menentukan cara penyesuaian diri Individu terhadap lingkungannya.

Pendekatan Alport terhadap kepribadian:
a.       Individu didasari oleh motif  sadar , motif sadar dari individu adalah penentu tingkah laku. Psikolog yang ingin memahami individu hendaknya mempelajari motif sadar.
b.      Menekankan pada keunikan tiap-tiap individu
c.       Individu sehat secara psikologis
d.      Alport menekankan pendekatan eklektik terhadap kepribadian, eklektik artinya bisa dijelaskan oleh semua teori, karena tidak ada teori yang komprehensif dalam menjelaskan kepribadian seseorang.

Struktur Kepribadian Alport
a.      Cardinal dispotition:
Karaktristik yang paling menonjol yang menentukan ciri khas individu , mendominasi kehidupan seseorang dan bisa menggambarkan kepribadian.
c/ : Penyayang

b.      Central dispotition
Merupakan 5-10 karakteristik yang dimiliki individu yang paling menonjol, setiap individu memiliki disposisi yang sentral .
c/ : tanggung jawab, rajin

c.       Secondary dispotition
Disposisi yang kurang menonjol , lebih jarang muncul dan kurang bermanfaat dalam menggambarkan kepribadian seseorang, berpusat pada respon-respon yang ditimbulkan karena stimulus tertentu.  
c/: selera musik, selera makanan.
Sifat atau trait merupakan unit dasar dari kepribadian , trait menurul alport (1936) dalam Feist&Feist (2010) menjelaskan trait merupakan kecenderungan-kecenderungan seseoorang yang bersifat umum dan personal merupakan cara penyesuaian diri yang stabil terhadap lingkungannya.


Penyimpulan untuk mengenali suatu trait adalah adanya konsistensi.
Aspek proprium à menjelaskan Fungsi ego

Raymond Cattel
Cattel Menjelaskan kepribadian sebagai sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan prediksi tentang apa yang akan dilakukan seseorang di situasi tertentu (Feist&Feist,2010). Tujuan penelitian psikologi dalam bidang kepribadian adalah untuk menentukan hukum –hukum tentang apa yang akan dikerjakan oleh orang-orang yang berbeda dalam berbagai situasi sosial dan situasi lingkungan secara umum. Karena kepribadian seseorang harus dapat digunakan untuk melakukan prediksi oleh karena itu harus ada hukum tertentu , oleh karena itu tes kepribadian yang dijelaskan cattel dapat dilakukan untuk memprediksi apa yang mungkin dilakukan seseorang pada situasi sosial tertentu atau pada situasi lingkungan secara umum berdasarkan hukum tertentu.

Cattel melihat kepribadian sebagai suatu struktur sifat-sifat (trait) yang kompleks dan terdifensiasi, yang motifnya sebagian besar bergantung pada dynamic trait.
Sedangkan trait didefinisikan sebagai “struktur mental” suatu penyimpulan yang dibuat dari tingkah laku yang diobservasi untuk menjelaskan keteraturan dan konsistensi à hal nya suatu kepribadian dikatakan sebagai kumpulan trait dan trait ini dapat dilihat melalui tingkah laku yang memiliki hukum keteraturan dan konsistensi.

Pembagian Trait :
1.      Source Trait :
Merepresentasikan variable-variable yang mendasari , menentukan manifestasi trait-trait yang muncul di permukaan.
Dapat dilihat melalui alasis faktor yang mengestimasikan faktor-faktor yang menjadi dasar tingkah laku permukaan.

2.      Surface Trait:
Sifat-sifat permukaan, pada umumnya bersifat kurang stabil dibandingkan surface trait





• General Personality Trait
•tempramen -->sifat-sifat yang berhubungan dengan aspek konstitusional dari respon. contoh: kecepatan, energi, reaktivitas emosional.
•dynamic trait --> sifat-sifat yang berfungsi menggerakan individu untuk bertindak mencapai tujuan tertentu

•Ability Trait --> sifat-sifat yang menentukan keefektifan individu dalam mencapai tujuan.


Macam-macam Dynamic Trait:

1. Attitude à tindakan tertentu/ keinginan bertindak untuk merespon situasi tertentu
2. Ergs à dorongan-dorongan/motif yang dibawa sejak lahir.
3. Sems à Trait yang diperoleh/ diipelajari.


Hans Jurgen Eyesnck

A.      Pengukuran Kepribadian
Teori Eyesenck memiliki komponen psikometris dan biologis yang kuat
Didasari oleh spearman dan pavlov:
Spearman à kepribadian dapat diukur dan diselidiki secara psikometrik.
Pavlop à terdapat komponen biologis dari kepribadian.

Empat Kriteria untuk mengidentifikasi kepribadian:

1.       Adanya fakta-fakta psikometrik untuk eksistensi faktor tersebut, faktor tersebut harus reliable dan dapat direplikasi.
2.       Faktor tersebut harus memiliki heredity à aspek keturunan
3.       Faktor tersebut harus masuk akal dari pandangan teoritis à terdapat data-data yang secara logis konsisten dengan teori tersebut.
4.       Faktor tersebut harus mempunyai relevansi sosial à memiliki hubungan dengan variable-variable yang relevan secara sosial, seperti perilaku psikotik, kriminalitas dll.

B.      Hirarki Pengukuran Kepribadian

1.       Tindakan Spesifik atau Kognisi:
Perilaku atau pikiran individu yang merupakan karakteristik atau bukan karakteristik individu. Misalnya, seorang mahasiswa menyelesaikan tugas tepat waktu.

2.       Habbit
Tindakann kebiasan atau kognisi kebiasaan = respon-respon yang berulang pada kondisi yang sama. Misalnya, mahasiswa sering kerjakan apapun sampai selesai dan disiplin.

3.       Trait
Respon kebiasan yang saling berhubungan.

4.       Type
Terdiri dari trait yang saling berhubungan.


1.      Dimensi Kepribadian

a.       Ekstraversion (E) à sociable, lively, Active, Assertive, Sensation Seeking, Careless, Domminant, surgent.

b.      Neurotichism (N)à anxious, depressive, guilty feeling, low self esteem, tense, irrational, shy, moody.

c.        Psychotichism (P)à Agressive, cold, Egosentris, Impersonal, Impulsive, Anti social, Unemphatic, Creative, Tough Minded.


Ketiga faktor à P E N à Bipolar

-          Kutub Ekstraversion dan Introversion
-          Faktor Neurotichism  dan kutub stabilitas
-          Faktor Psychotichism dengan fungsi super ego





2.      Pengukuran Superfaktor
Eyesenck mengembangkan empat inventori kepribadian yang mengukur super faktor

a.       The maudsley Personality Inventory (MPI) à mengukur E dan N
b.      Eyesenck Personality Inventory (EPI) à mengukur extraversion dan neurotichism secara independen EPI mempunyai skala kebohongan/ lie scale untuk mendeteksi jawaban Faking.
c.       Eyesenck personality Quistionare (EPQ)



Tes Kepribadian neo Freudian
1.       TAT  (thematic Apperseption test)
Sebuah Tehnik proyektif berupa gambar. Examine diminta untuk membuat cerita tentang apa yang iya yakini sedang terjadi dalam situasi atau kejadian yang dilukiskan dalam gambar-gambar itu. Muray (1943) dalam Gorth Marnat (2009) mendeskripsikan TAT sebagai “metode untuk mengungkapkan sebagian dorongan, emosi, sentimen, kompleks dan konflik kepribadian yang dominan.

Berbeda dengan tes menggambar proyektif seperti Rosach atau Holzman à TAT lebih menyodorkan stimulus yang lebih terstruktur dan membutuhkan respon verbal yang lebih terorganisir dan kompleks.

Tes ini dikembangkan Oleh Henry Murray.
TAT lebih berorientasi pada “here” and “now”. Hasilnya biasanya digunakan untuk melengkapi tes psikologis lain karena TAT bukan hanya menghasilkan informasi yang kaya , beraneka ragam tapi menghasilkan kepribadian yang mem-bypass subjek (dalam Gorth marnat, 2009)
TAT awalnya dikemukakan oleh Henry Murray  dalam sebuah artikel yang dimuat tahun 1935 dengan chirstina Morgan tapi dilengkapi pada tahun 1943. Kemudia TAT dikembangkan karena ingin meneliti populasi yang berbeda, contohnya anak-anak , orang lanjut usia dan kelompok minoritas. Penambahan terkini pada TAT adalah Robberts Apperception Test  for Children  (RATC).





Bagaimana Murray Menjelaskan Kepribadian?

Muray dalam Feist & Feist (2010) berpendapat bahwa kepribadian seseorang berkembang karena pemenuhan kebutuhan dan tekanan-tekanannya.

Murray mengidentifikasi kepribadian seseorang melalui gambar.

Kepribadian yang diungkapkan murray sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama seperti aliran psikodinamis oleh karena itu disebut neo freudian, dimana Murray berpendapat bahwa manusia mempunyai kebutuhan dan dalam memenuhi kebutuhannya tersebut manusia harus memmenuhi pressure nya dulu. Apabila pressure terlalu banyak dan menghambat pemenuhan kebutuhan kepribadian manusia terpengaruhi.

Murray juga berpendapat bahwa kepribadian adalah suatu abstraksi dari suatu teori dan bukan semata-mata hasil deskripsi dari perilaku manusia seperti dalam behavioris.

Kepribadian merupakan serial perjalanan kehidupan manusia dari awal sampai akhir , jadi sejarah kehidupan manusia dari hidup sampai mati adalah kepribadian : hal ini yang menciptakan TAT dimana menggambarkan kepribadian berdasarkan serial gambar dan testee menceritakan gambar tersebut.

TAT juga mendeskripsikan sebuah serial mengimplementasikan suatu kepribadian itu berkesinambungan hasil dari hari ini dan masa lalu, dimana murray mengatakan bahwa kepribadian itu merefleksikan elemen prilaku yang berulang dan berwarna / unik (dalam Feist& Feist, 2010).

Kepribadian adalah agen untuk mengarahkan dan mengintegrasikan ketegangan atau konflik yang muncul, sekaligus merencanakan , memenuhi kebutuhan untuk mencapai tujuan.

PERBEDAAN UTAMA MURRAY dan FREUD adalah terletak pada dinamika nya, dalam konsep kepribadian yang dimiliki Freud kepribadian manusia sangat dipengaruhi oleh dinamika ID, EGO, Super Ego dan didasari motif yang tidak didasari, sedangkan Murray mengemukakan konsep mengenai ordination (konsep yang jelaskan mengenai Goal) manusia secara aktif tentukan kebutuhannya dan sub goal  untuk memenuhi kebutuhannya dan identifikasi pressure (dalam Feist & Feist, 2010).

Dasar Pemikiran TAT
1.       Needs à proses kerja otak à kosnstruk yang melibatkan persepsi , proses berfikir, dan tindakan untuk mengubah situasi yang tidak menyenangkan.
Needs berasal dari motif internal c/ lapar dan motif eksternal c/ cuaca panas.

2.       Pressure à mencerminkan pengaruh faktor lingkungan terhadap perilaku , kondisi lingkungan yang dapat berpengaruh baik menghambat dan tidak pada proses pemenuhan kebutuhan.

Tes Proyeksi

1.       Rossach à menggunakan 10 kartu stimulus noda tinta, dimana klien mendeskripsikan persepsi terhadap noda. Interpretasi naratif menginterpretasikan area seperti gaya coping dan sikap interpersonal.
Tes Proyeksi biasanya diadakan dengan metode wawancara , dan stimulus seperti pada tes rossach dimana setiap orang memberikan respon yang berbeda. Digunakan untuk memproyeksikan drives dan lain-lain.

Referensi :
Santrock, J. W (2003). Adolescene (6th ed).Jakarta; Penerbit Erlangga. 
Feist & Feist. (2010). Theories of Personality. (7th ed). Avenue Americas; New York
  






Kamis, 01 Mei 2014

Diskusi Ulasan Pembahasa Psikodiagnostik I sebelum UTS

Ulasan Pembelajaran PSIKODIAGNOSTIK I (sebelum UTS)


Perbedaan Konsep Attitude dan Aptitude dalam kajian Psikodiagnostik I
A.      Aptitude
Aptitude dalam adolescene (2003) dijelaskan dengan kemampuan khusus yang dimiliki seseorang atau kemampuan tertentu untuk memahami keterampilan tertentu dan menghasilkan sesuatu dari keterampilan itu. Aptitude sering disebut keberbakatan ada yang sifatnya universal atau mengindikasikan kemampuan yang kita sebut Intelegensi , dan ada yang mmenggambarkan tentang minat atau interest merupakan kecenderungan seseorang untuk memilih sesuatu aktivitas.

1.       Intelegensi
Sejarah Intelegensi , pada tahun 500 SM intelegensi ini sudah digunakan untuk mengetahui mana yang boleh jadi pemerintah dan sipil pada masa dinasti han dan mana yang tidak \Pengertian intelegensi ini tidak bisa terpisahkan dari perkembangan aliran dalam psiklogi. Intelegensi merupakan salah satu konsep dan elemen penyusun dari jiwa, oleh karena itu kita terlebih dahulu harus melihat perkembangan bagaimana para ahli menjelaskan tentang konsep jiwa terlebih konsep intelegensi penyusun dari jiwa.

Wilhelm wundt dalam Sarwono Sarlito (2012) menjelaskan tentang konsep strukturalisme dalam menjelaskan manusia, dimana dia berpendapat bahwa untuk jelaskan manusia cukup menjelaskan struktur elemen dari penyusun jiwa nya, seperti halnya intelegensi kita hanya perlu jelaskan struktur dari intelegensi artinya konsep intelegensi disini dijelaskan secara general atau secara umum. Wundt adalah bapak psikologi yang membuat ilmu psikologi sebagai disiplin ilmu yanng empiris dengan mendirikan laboratorium pertama di LEIPZIG.




Setelah Wundt muncul kritik dari EL Thorndike yang berpendapat bahwasanya lebih penting untuk menjelaskan fungsi-fungsi dari elemen penyusun jiwa, fungsi-fungsi dari elemen penyusun jiwa ini dianggap bisa menjelaskan manusia secara keseluruhan, dan struktur tidak penting. Pendapat thorndike ini kelak akan mendasari tokoh-tokoh yang menjelaskan konsep intelegensi secara fungsionalis, dimana intelegensi seseorang dapat dijelaskan dengan membagi intelegensi jadi beberapa elemen penyusun dan menjelaskan masing-masing fungsi elemen penyusun intelegensi tersebut dimana setiap fungsi dari intelegensi tersebut punya implementasi untuk menggambarkan intelegensi seseorang.
Beberapa Tokoh Strukturalisme dalam Intelegensi

1.       Spearman:
Dalam Adolescne (2003) menjelaskan konsep intelegensi menjadi G factor dan S factor dimana G factor adalah kemampuan umum yang dimiliki seseorang dan S factor yaitu kemampuan khusus dan paling dominan yang dimiliki seseorang, kenapa spearman dikatakan sebagai tokoh strukturalis dalam jelaskan intelegensi? Karena dia hanya menjelaskan bahwa penyusun intelegensi ada dua yaitu G factor dan S factor dia tidak membagi-bagi intelegensi kedalam beberapa faktor lagi. Dan menjelaskan konsep intelegensi secara universal atau umum.  Intelegensi hanya dijelaskan sebagai kapasitas yang dimiliki seseorang.

2.       Cattel
Dalam Kaplan () cattel hanya membagi intelegensi kedalam dua struktur yaitu fluid inteligence (kemampuan bawaan seseorang sejak lahir)dan crystalize inteligence (kemampuan yang dihasilkan seseorang/ yang didapatkan seseorang karena proses pembelajaran). Cattel juga tidak membbaggi intelegensi menjadi elemen-elemen kecil penyusun intelegensi , cattel menjelaskan intelegensi secara umum, bahwa seseorang memiliki fluid inteligent dan crystalize inteligent. Tes yang dihasilkan cattel adalah C-FIT.

3.       Ravent (1945)
Mengukur intelegensi secara umum.
Tes ravent : colour progresive matrix dan standar progresive matrix.













Beberapa Tokoh Fungsionalisme tentang Intelegensi

1.       EL Thorndike
Membagi intelegensi menjadi intelegensi verbal, non verbal,

2.       Stenberg
Stenberg (1985) dalam Adolescene (2003) mengemukakan tentang teori Thriarcic dalam menjelaskan intelegensi.

Teori thriarcic Stenberg , mengajukan teori thriarcic , teori intelegensi dengan tiga komponen utama diantaranya; intlegensi komponensial, intelegensi eksperimental, intlegensi kotekstual. Semua ini dikatakan untuk mengkritik tes intelegensi tradisional milik binet bayangkan apabila seseorang memiliki skor tinggi pada tes intelegensi tradisional stamford-binet padahal dia adalah pemikir analitis handal, atau  tod yang tidak pernah mencapai skor bagus tapi punya cara pikir kreatif.



Dalam pandangan stenberg mengenai intelegensi komponensial à unit dasar intelegensi adalah suatu komponen ang didefinisikan sebagai unit dasar pemrosesan informasi, dari menerima, menyusun sampai  membuat keputusan. Melakukan penalaran , memecahkan masalah, membuat strategi sampai menerjemahkannya melalui tindakan.
Bagian kedua merupakan aspek pengalaman, stanberg berkata orang yang cerdas mampu menyelesaikan masalah baru dengan cepat tapi dia juga bisa memecahkan masalah yang sudah dikenalnya secara otomatis tidak perlu berpikir lagi.

Bagian tiga, meliputi pengetahuan meliputi bagaimana cara kita menghadapi masalah sehari-hari contohnya cara menggati batu batre dan cara kita berhubungan dengan orang lain.


3.       Thurstone
Thurstone (1938) dalam Adolscene (2003 )mengatakan bahwa intelegensi merupakan tujuh kemampuan mental dasar yaitu pemahaman verbal, kemampuan berhitung, kelancaran kata-kata, visualisasi ruang, ingatan asosiatif, penalaran, dan kecepatan perseptual.








4.       Gardner
Mengemukakan konsep Multiple Inteligent
Usaha terakhir untuk menjawab tentang intelegensi adalah pernyataan dari Howard Gardner (1983-1989) dalam Adolscene (2003). Disebutnya delapan kerangka pemikiran Gardner, intelegensi yang beragam ceritanya tentang seorang anak yang jago bermain basket dimana setla me rebound bola dia melempar bola, menghalangi musuhnya, memberi umpan kepada temannya untuk melakukan tembakan ke ring basket, menurutnya itu adalah kecakapan spasial kemampuan memahami ruang, dan bethoven seorang musisi klasik disebutnya memiliki intelegensi musikal (dalam Adolscene,2003). Garner menambahkan intelegensi terdiri dari intelegensi verbal, matematis, berfikir mendalam/ menganalisa dirinya serta keterampilan berpikir untuk menganalisa orang lain.
Gardner pun menambahkan bahwa ke-8 intelegensi nya ini dapat dirusak oleh otak dan bisa jadi pada salah satu intelegensi seseorang bisa sangat ekstrim contohnya pada anak gifted. Kedelapan intelegensi gardner adalah: musik, spasial, interpersonal, natural, mathematic, music, rational, kinestetik.

5.       Guilford (1934)
Didasari oleh teori analsis faktor dari eyesenk menjelaskan intelegensi sebagai kemampuan untuk menjawab pertanyaan di situasi saat ini dan semua situasi masa lalu untuk antisipasi di masa yang akan datang.
Mengemukakan tentang kubus intelegensi

6.       Simon & Binnet dalam adolescne (2003) menjelaskan intelegensi sebagai berikut:

Intelegensi :
MA/CA* 100 =   Intelegensi seseorang

Mental Age (MA)    : adalah usia mental seseorang yang menggambarkan kemampuan mental seseorang, cronological age (CA)  adalah usia kronologis seseorang saat ini.

MA ≤ 100 maka Intelegensi seseorang ≤100
MA ≥ 100 maka Intelegensi seseorang ≥100
MA=100 maka intelegensi seseorang = 100

Tes yang dihasilkan adalah : tes Simon - Binnet
Nantinya diperbaiki menjadi tes Stamford- Binnet.



7.       Kraeplin dalam adolescene (2003)mengemukakan intelegensi sebagai koordinasi motorik, asosiasi kata, persepsi, dan sensasi
Tes intelegensi : Kraeplin.

B. Attitude

Cattel  dalam feist and feist  (2010)  mendefinisikan Attitude sebagai kecenderungan seseorang dalam bertingkah laku dalam merespon stimulus tertentu . cattel mengemukakan tentang Generall Personality Trait ,secara umum yang terdiri dari :
1.       Tepramen didefinisikan sebagai trait yang berhubungan langsung dengan aspek konstitusional dari respon seperti kecepatan, energi, dan reaktivitas emosional.
2.       Dynamic Trait : Sifat-sifat yang berfungsi menggerakan individu untuk bergerak mencapai tujuan tertentu.
Dynamic Trait dibagi menjadi : Attitude , Ergs(dorongan-dorongan/ motif-motif yang dibawa oleh individu sejak lahir), dan sems ( dynamic trait yang diperoleh/dipelajari).

3.       Ability Trait: sifat-sifat yang menentukan keefektifan individu dalam mencapai tujuan.

Cattel menjelaskan konsep attitude dalam penjelasan tentang personality dimana dia memandang kepribadian individu sebagi trait yang terdiferensiasi dan kompleks yang kebanyakan dimodifikasi oleh trait yang diamis. Jadi dia menjelaskan kenapa individu berbeda karena individu memiliki trait yang dinamis (dalam Feist & Feist,2010 )
Cattel sendiri dalam feist&feist (2010) mendefinisikan trait sebagai “struktur mental” merupakan suatu penyimpulan terhadap tingkah laku yang diobservasi yang menjelaskan tentang konsistensi dan keteraturan dari tingkah laku tersebut.

Jadi perbedaan konsep attitude dan aptitude mengacu pada area pembahasannya, jika membicarakan mengenai kemampuan maka aptitude lah konsep yang menjelaskan sedangkan attitude lebih menjelaskan konsep kepribadian atau erat kaitannya dengan konsep kepribadian.


Referensi :

Santrock, J. W (2003). Adolescene (6th ed).Jakarta; Penerbit Erlangga. 
Feist & Feist. (2010). Theories of Personality. (7th ed). Avenue Americas; New York
Rita L. Atkinson & Richard C. Atkinson & Ernest R Hilgard. 2001. Pengantar Psikologi 1. (edisi ke-8 Jilid 2). Penerbit Erlangga; Jakarta.
Sarwono, W. S.  2012. Pengantar Psikologi Umum. (cetakan ke-4): PT. Raja Grafindo Pustaka. Jakarta



-TERIMAKASIH-