Minggu, 04 Mei 2014

Tes Proyeksi dan Kepribadian


Tes Kepribadian

Theory of Personality berdasarkan beberapa Ahli

1.      Goldon Alport
Alport dalam Feist & Feist (2010) menjelaskan mengenai kepribadian adalah organisasi dinamis yang terdiri dari sistem psikofisis yang menentukan cara penyesuaian diri Individu terhadap lingkungannya.

Pendekatan Alport terhadap kepribadian:
a.       Individu didasari oleh motif  sadar , motif sadar dari individu adalah penentu tingkah laku. Psikolog yang ingin memahami individu hendaknya mempelajari motif sadar.
b.      Menekankan pada keunikan tiap-tiap individu
c.       Individu sehat secara psikologis
d.      Alport menekankan pendekatan eklektik terhadap kepribadian, eklektik artinya bisa dijelaskan oleh semua teori, karena tidak ada teori yang komprehensif dalam menjelaskan kepribadian seseorang.

Struktur Kepribadian Alport
a.      Cardinal dispotition:
Karaktristik yang paling menonjol yang menentukan ciri khas individu , mendominasi kehidupan seseorang dan bisa menggambarkan kepribadian.
c/ : Penyayang

b.      Central dispotition
Merupakan 5-10 karakteristik yang dimiliki individu yang paling menonjol, setiap individu memiliki disposisi yang sentral .
c/ : tanggung jawab, rajin

c.       Secondary dispotition
Disposisi yang kurang menonjol , lebih jarang muncul dan kurang bermanfaat dalam menggambarkan kepribadian seseorang, berpusat pada respon-respon yang ditimbulkan karena stimulus tertentu.  
c/: selera musik, selera makanan.
Sifat atau trait merupakan unit dasar dari kepribadian , trait menurul alport (1936) dalam Feist&Feist (2010) menjelaskan trait merupakan kecenderungan-kecenderungan seseoorang yang bersifat umum dan personal merupakan cara penyesuaian diri yang stabil terhadap lingkungannya.


Penyimpulan untuk mengenali suatu trait adalah adanya konsistensi.
Aspek proprium à menjelaskan Fungsi ego

Raymond Cattel
Cattel Menjelaskan kepribadian sebagai sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan prediksi tentang apa yang akan dilakukan seseorang di situasi tertentu (Feist&Feist,2010). Tujuan penelitian psikologi dalam bidang kepribadian adalah untuk menentukan hukum –hukum tentang apa yang akan dikerjakan oleh orang-orang yang berbeda dalam berbagai situasi sosial dan situasi lingkungan secara umum. Karena kepribadian seseorang harus dapat digunakan untuk melakukan prediksi oleh karena itu harus ada hukum tertentu , oleh karena itu tes kepribadian yang dijelaskan cattel dapat dilakukan untuk memprediksi apa yang mungkin dilakukan seseorang pada situasi sosial tertentu atau pada situasi lingkungan secara umum berdasarkan hukum tertentu.

Cattel melihat kepribadian sebagai suatu struktur sifat-sifat (trait) yang kompleks dan terdifensiasi, yang motifnya sebagian besar bergantung pada dynamic trait.
Sedangkan trait didefinisikan sebagai “struktur mental” suatu penyimpulan yang dibuat dari tingkah laku yang diobservasi untuk menjelaskan keteraturan dan konsistensi à hal nya suatu kepribadian dikatakan sebagai kumpulan trait dan trait ini dapat dilihat melalui tingkah laku yang memiliki hukum keteraturan dan konsistensi.

Pembagian Trait :
1.      Source Trait :
Merepresentasikan variable-variable yang mendasari , menentukan manifestasi trait-trait yang muncul di permukaan.
Dapat dilihat melalui alasis faktor yang mengestimasikan faktor-faktor yang menjadi dasar tingkah laku permukaan.

2.      Surface Trait:
Sifat-sifat permukaan, pada umumnya bersifat kurang stabil dibandingkan surface trait





• General Personality Trait
tempramen -->sifat-sifat yang berhubungan dengan aspek konstitusional dari respon. contoh: kecepatan, energi, reaktivitas emosional.
dynamic trait --> sifat-sifat yang berfungsi menggerakan individu untuk bertindak mencapai tujuan tertentu

Ability Trait --> sifat-sifat yang menentukan keefektifan individu dalam mencapai tujuan.


Macam-macam Dynamic Trait:

1. Attitude à tindakan tertentu/ keinginan bertindak untuk merespon situasi tertentu
2. Ergs à dorongan-dorongan/motif yang dibawa sejak lahir.
3. Sems à Trait yang diperoleh/ diipelajari.


Hans Jurgen Eyesnck

A.      Pengukuran Kepribadian
Teori Eyesenck memiliki komponen psikometris dan biologis yang kuat
Didasari oleh spearman dan pavlov:
Spearman à kepribadian dapat diukur dan diselidiki secara psikometrik.
Pavlop à terdapat komponen biologis dari kepribadian.

Empat Kriteria untuk mengidentifikasi kepribadian:

1.       Adanya fakta-fakta psikometrik untuk eksistensi faktor tersebut, faktor tersebut harus reliable dan dapat direplikasi.
2.       Faktor tersebut harus memiliki heredity à aspek keturunan
3.       Faktor tersebut harus masuk akal dari pandangan teoritis à terdapat data-data yang secara logis konsisten dengan teori tersebut.
4.       Faktor tersebut harus mempunyai relevansi sosial à memiliki hubungan dengan variable-variable yang relevan secara sosial, seperti perilaku psikotik, kriminalitas dll.

B.      Hirarki Pengukuran Kepribadian

1.       Tindakan Spesifik atau Kognisi:
Perilaku atau pikiran individu yang merupakan karakteristik atau bukan karakteristik individu. Misalnya, seorang mahasiswa menyelesaikan tugas tepat waktu.

2.       Habbit
Tindakann kebiasan atau kognisi kebiasaan = respon-respon yang berulang pada kondisi yang sama. Misalnya, mahasiswa sering kerjakan apapun sampai selesai dan disiplin.

3.       Trait
Respon kebiasan yang saling berhubungan.

4.       Type
Terdiri dari trait yang saling berhubungan.


1.      Dimensi Kepribadian

a.       Ekstraversion (E) à sociable, lively, Active, Assertive, Sensation Seeking, Careless, Domminant, surgent.

b.      Neurotichism (N)à anxious, depressive, guilty feeling, low self esteem, tense, irrational, shy, moody.

c.        Psychotichism (P)à Agressive, cold, Egosentris, Impersonal, Impulsive, Anti social, Unemphatic, Creative, Tough Minded.


Ketiga faktor à P E N à Bipolar

-          Kutub Ekstraversion dan Introversion
-          Faktor Neurotichism  dan kutub stabilitas
-          Faktor Psychotichism dengan fungsi super ego





2.      Pengukuran Superfaktor
Eyesenck mengembangkan empat inventori kepribadian yang mengukur super faktor

a.       The maudsley Personality Inventory (MPI) à mengukur E dan N
b.      Eyesenck Personality Inventory (EPI) à mengukur extraversion dan neurotichism secara independen EPI mempunyai skala kebohongan/ lie scale untuk mendeteksi jawaban Faking.
c.       Eyesenck personality Quistionare (EPQ)



Tes Kepribadian neo Freudian
1.       TAT  (thematic Apperseption test)
Sebuah Tehnik proyektif berupa gambar. Examine diminta untuk membuat cerita tentang apa yang iya yakini sedang terjadi dalam situasi atau kejadian yang dilukiskan dalam gambar-gambar itu. Muray (1943) dalam Gorth Marnat (2009) mendeskripsikan TAT sebagai “metode untuk mengungkapkan sebagian dorongan, emosi, sentimen, kompleks dan konflik kepribadian yang dominan.

Berbeda dengan tes menggambar proyektif seperti Rosach atau Holzman à TAT lebih menyodorkan stimulus yang lebih terstruktur dan membutuhkan respon verbal yang lebih terorganisir dan kompleks.

Tes ini dikembangkan Oleh Henry Murray.
TAT lebih berorientasi pada “here” and “now”. Hasilnya biasanya digunakan untuk melengkapi tes psikologis lain karena TAT bukan hanya menghasilkan informasi yang kaya , beraneka ragam tapi menghasilkan kepribadian yang mem-bypass subjek (dalam Gorth marnat, 2009)
TAT awalnya dikemukakan oleh Henry Murray  dalam sebuah artikel yang dimuat tahun 1935 dengan chirstina Morgan tapi dilengkapi pada tahun 1943. Kemudia TAT dikembangkan karena ingin meneliti populasi yang berbeda, contohnya anak-anak , orang lanjut usia dan kelompok minoritas. Penambahan terkini pada TAT adalah Robberts Apperception Test  for Children  (RATC).





Bagaimana Murray Menjelaskan Kepribadian?

Muray dalam Feist & Feist (2010) berpendapat bahwa kepribadian seseorang berkembang karena pemenuhan kebutuhan dan tekanan-tekanannya.

Murray mengidentifikasi kepribadian seseorang melalui gambar.

Kepribadian yang diungkapkan murray sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama seperti aliran psikodinamis oleh karena itu disebut neo freudian, dimana Murray berpendapat bahwa manusia mempunyai kebutuhan dan dalam memenuhi kebutuhannya tersebut manusia harus memmenuhi pressure nya dulu. Apabila pressure terlalu banyak dan menghambat pemenuhan kebutuhan kepribadian manusia terpengaruhi.

Murray juga berpendapat bahwa kepribadian adalah suatu abstraksi dari suatu teori dan bukan semata-mata hasil deskripsi dari perilaku manusia seperti dalam behavioris.

Kepribadian merupakan serial perjalanan kehidupan manusia dari awal sampai akhir , jadi sejarah kehidupan manusia dari hidup sampai mati adalah kepribadian : hal ini yang menciptakan TAT dimana menggambarkan kepribadian berdasarkan serial gambar dan testee menceritakan gambar tersebut.

TAT juga mendeskripsikan sebuah serial mengimplementasikan suatu kepribadian itu berkesinambungan hasil dari hari ini dan masa lalu, dimana murray mengatakan bahwa kepribadian itu merefleksikan elemen prilaku yang berulang dan berwarna / unik (dalam Feist& Feist, 2010).

Kepribadian adalah agen untuk mengarahkan dan mengintegrasikan ketegangan atau konflik yang muncul, sekaligus merencanakan , memenuhi kebutuhan untuk mencapai tujuan.

PERBEDAAN UTAMA MURRAY dan FREUD adalah terletak pada dinamika nya, dalam konsep kepribadian yang dimiliki Freud kepribadian manusia sangat dipengaruhi oleh dinamika ID, EGO, Super Ego dan didasari motif yang tidak didasari, sedangkan Murray mengemukakan konsep mengenai ordination (konsep yang jelaskan mengenai Goal) manusia secara aktif tentukan kebutuhannya dan sub goal  untuk memenuhi kebutuhannya dan identifikasi pressure (dalam Feist & Feist, 2010).

Dasar Pemikiran TAT
1.       Needs à proses kerja otak à kosnstruk yang melibatkan persepsi , proses berfikir, dan tindakan untuk mengubah situasi yang tidak menyenangkan.
Needs berasal dari motif internal c/ lapar dan motif eksternal c/ cuaca panas.

2.       Pressure à mencerminkan pengaruh faktor lingkungan terhadap perilaku , kondisi lingkungan yang dapat berpengaruh baik menghambat dan tidak pada proses pemenuhan kebutuhan.

Tes Proyeksi

1.       Rossach à menggunakan 10 kartu stimulus noda tinta, dimana klien mendeskripsikan persepsi terhadap noda. Interpretasi naratif menginterpretasikan area seperti gaya coping dan sikap interpersonal.
Tes Proyeksi biasanya diadakan dengan metode wawancara , dan stimulus seperti pada tes rossach dimana setiap orang memberikan respon yang berbeda. Digunakan untuk memproyeksikan drives dan lain-lain.

Referensi :
Santrock, J. W (2003). Adolescene (6th ed).Jakarta; Penerbit Erlangga. 
Feist & Feist. (2010). Theories of Personality. (7th ed). Avenue Americas; New York
  






Kamis, 01 Mei 2014

Diskusi Ulasan Pembahasa Psikodiagnostik I sebelum UTS

Ulasan Pembelajaran PSIKODIAGNOSTIK I (sebelum UTS)


Perbedaan Konsep Attitude dan Aptitude dalam kajian Psikodiagnostik I
A.      Aptitude
Aptitude dalam adolescene (2003) dijelaskan dengan kemampuan khusus yang dimiliki seseorang atau kemampuan tertentu untuk memahami keterampilan tertentu dan menghasilkan sesuatu dari keterampilan itu. Aptitude sering disebut keberbakatan ada yang sifatnya universal atau mengindikasikan kemampuan yang kita sebut Intelegensi , dan ada yang mmenggambarkan tentang minat atau interest merupakan kecenderungan seseorang untuk memilih sesuatu aktivitas.

1.       Intelegensi
Sejarah Intelegensi , pada tahun 500 SM intelegensi ini sudah digunakan untuk mengetahui mana yang boleh jadi pemerintah dan sipil pada masa dinasti han dan mana yang tidak \Pengertian intelegensi ini tidak bisa terpisahkan dari perkembangan aliran dalam psiklogi. Intelegensi merupakan salah satu konsep dan elemen penyusun dari jiwa, oleh karena itu kita terlebih dahulu harus melihat perkembangan bagaimana para ahli menjelaskan tentang konsep jiwa terlebih konsep intelegensi penyusun dari jiwa.

Wilhelm wundt dalam Sarwono Sarlito (2012) menjelaskan tentang konsep strukturalisme dalam menjelaskan manusia, dimana dia berpendapat bahwa untuk jelaskan manusia cukup menjelaskan struktur elemen dari penyusun jiwa nya, seperti halnya intelegensi kita hanya perlu jelaskan struktur dari intelegensi artinya konsep intelegensi disini dijelaskan secara general atau secara umum. Wundt adalah bapak psikologi yang membuat ilmu psikologi sebagai disiplin ilmu yanng empiris dengan mendirikan laboratorium pertama di LEIPZIG.




Setelah Wundt muncul kritik dari EL Thorndike yang berpendapat bahwasanya lebih penting untuk menjelaskan fungsi-fungsi dari elemen penyusun jiwa, fungsi-fungsi dari elemen penyusun jiwa ini dianggap bisa menjelaskan manusia secara keseluruhan, dan struktur tidak penting. Pendapat thorndike ini kelak akan mendasari tokoh-tokoh yang menjelaskan konsep intelegensi secara fungsionalis, dimana intelegensi seseorang dapat dijelaskan dengan membagi intelegensi jadi beberapa elemen penyusun dan menjelaskan masing-masing fungsi elemen penyusun intelegensi tersebut dimana setiap fungsi dari intelegensi tersebut punya implementasi untuk menggambarkan intelegensi seseorang.
Beberapa Tokoh Strukturalisme dalam Intelegensi

1.       Spearman:
Dalam Adolescne (2003) menjelaskan konsep intelegensi menjadi G factor dan S factor dimana G factor adalah kemampuan umum yang dimiliki seseorang dan S factor yaitu kemampuan khusus dan paling dominan yang dimiliki seseorang, kenapa spearman dikatakan sebagai tokoh strukturalis dalam jelaskan intelegensi? Karena dia hanya menjelaskan bahwa penyusun intelegensi ada dua yaitu G factor dan S factor dia tidak membagi-bagi intelegensi kedalam beberapa faktor lagi. Dan menjelaskan konsep intelegensi secara universal atau umum.  Intelegensi hanya dijelaskan sebagai kapasitas yang dimiliki seseorang.

2.       Cattel
Dalam Kaplan () cattel hanya membagi intelegensi kedalam dua struktur yaitu fluid inteligence (kemampuan bawaan seseorang sejak lahir)dan crystalize inteligence (kemampuan yang dihasilkan seseorang/ yang didapatkan seseorang karena proses pembelajaran). Cattel juga tidak membbaggi intelegensi menjadi elemen-elemen kecil penyusun intelegensi , cattel menjelaskan intelegensi secara umum, bahwa seseorang memiliki fluid inteligent dan crystalize inteligent. Tes yang dihasilkan cattel adalah C-FIT.

3.       Ravent (1945)
Mengukur intelegensi secara umum.
Tes ravent : colour progresive matrix dan standar progresive matrix.













Beberapa Tokoh Fungsionalisme tentang Intelegensi

1.       EL Thorndike
Membagi intelegensi menjadi intelegensi verbal, non verbal,

2.       Stenberg
Stenberg (1985) dalam Adolescene (2003) mengemukakan tentang teori Thriarcic dalam menjelaskan intelegensi.

Teori thriarcic Stenberg , mengajukan teori thriarcic , teori intelegensi dengan tiga komponen utama diantaranya; intlegensi komponensial, intelegensi eksperimental, intlegensi kotekstual. Semua ini dikatakan untuk mengkritik tes intelegensi tradisional milik binet bayangkan apabila seseorang memiliki skor tinggi pada tes intelegensi tradisional stamford-binet padahal dia adalah pemikir analitis handal, atau  tod yang tidak pernah mencapai skor bagus tapi punya cara pikir kreatif.



Dalam pandangan stenberg mengenai intelegensi komponensial à unit dasar intelegensi adalah suatu komponen ang didefinisikan sebagai unit dasar pemrosesan informasi, dari menerima, menyusun sampai  membuat keputusan. Melakukan penalaran , memecahkan masalah, membuat strategi sampai menerjemahkannya melalui tindakan.
Bagian kedua merupakan aspek pengalaman, stanberg berkata orang yang cerdas mampu menyelesaikan masalah baru dengan cepat tapi dia juga bisa memecahkan masalah yang sudah dikenalnya secara otomatis tidak perlu berpikir lagi.

Bagian tiga, meliputi pengetahuan meliputi bagaimana cara kita menghadapi masalah sehari-hari contohnya cara menggati batu batre dan cara kita berhubungan dengan orang lain.


3.       Thurstone
Thurstone (1938) dalam Adolscene (2003 )mengatakan bahwa intelegensi merupakan tujuh kemampuan mental dasar yaitu pemahaman verbal, kemampuan berhitung, kelancaran kata-kata, visualisasi ruang, ingatan asosiatif, penalaran, dan kecepatan perseptual.








4.       Gardner
Mengemukakan konsep Multiple Inteligent
Usaha terakhir untuk menjawab tentang intelegensi adalah pernyataan dari Howard Gardner (1983-1989) dalam Adolscene (2003). Disebutnya delapan kerangka pemikiran Gardner, intelegensi yang beragam ceritanya tentang seorang anak yang jago bermain basket dimana setla me rebound bola dia melempar bola, menghalangi musuhnya, memberi umpan kepada temannya untuk melakukan tembakan ke ring basket, menurutnya itu adalah kecakapan spasial kemampuan memahami ruang, dan bethoven seorang musisi klasik disebutnya memiliki intelegensi musikal (dalam Adolscene,2003). Garner menambahkan intelegensi terdiri dari intelegensi verbal, matematis, berfikir mendalam/ menganalisa dirinya serta keterampilan berpikir untuk menganalisa orang lain.
Gardner pun menambahkan bahwa ke-8 intelegensi nya ini dapat dirusak oleh otak dan bisa jadi pada salah satu intelegensi seseorang bisa sangat ekstrim contohnya pada anak gifted. Kedelapan intelegensi gardner adalah: musik, spasial, interpersonal, natural, mathematic, music, rational, kinestetik.

5.       Guilford (1934)
Didasari oleh teori analsis faktor dari eyesenk menjelaskan intelegensi sebagai kemampuan untuk menjawab pertanyaan di situasi saat ini dan semua situasi masa lalu untuk antisipasi di masa yang akan datang.
Mengemukakan tentang kubus intelegensi

6.       Simon & Binnet dalam adolescne (2003) menjelaskan intelegensi sebagai berikut:

Intelegensi :
MA/CA* 100 =   Intelegensi seseorang

Mental Age (MA)    : adalah usia mental seseorang yang menggambarkan kemampuan mental seseorang, cronological age (CA)  adalah usia kronologis seseorang saat ini.

MA ≤ 100 maka Intelegensi seseorang ≤100
MA ≥ 100 maka Intelegensi seseorang ≥100
MA=100 maka intelegensi seseorang = 100

Tes yang dihasilkan adalah : tes Simon - Binnet
Nantinya diperbaiki menjadi tes Stamford- Binnet.



7.       Kraeplin dalam adolescene (2003)mengemukakan intelegensi sebagai koordinasi motorik, asosiasi kata, persepsi, dan sensasi
Tes intelegensi : Kraeplin.

B. Attitude

Cattel  dalam feist and feist  (2010)  mendefinisikan Attitude sebagai kecenderungan seseorang dalam bertingkah laku dalam merespon stimulus tertentu . cattel mengemukakan tentang Generall Personality Trait ,secara umum yang terdiri dari :
1.       Tepramen didefinisikan sebagai trait yang berhubungan langsung dengan aspek konstitusional dari respon seperti kecepatan, energi, dan reaktivitas emosional.
2.       Dynamic Trait : Sifat-sifat yang berfungsi menggerakan individu untuk bergerak mencapai tujuan tertentu.
Dynamic Trait dibagi menjadi : Attitude , Ergs(dorongan-dorongan/ motif-motif yang dibawa oleh individu sejak lahir), dan sems ( dynamic trait yang diperoleh/dipelajari).

3.       Ability Trait: sifat-sifat yang menentukan keefektifan individu dalam mencapai tujuan.

Cattel menjelaskan konsep attitude dalam penjelasan tentang personality dimana dia memandang kepribadian individu sebagi trait yang terdiferensiasi dan kompleks yang kebanyakan dimodifikasi oleh trait yang diamis. Jadi dia menjelaskan kenapa individu berbeda karena individu memiliki trait yang dinamis (dalam Feist & Feist,2010 )
Cattel sendiri dalam feist&feist (2010) mendefinisikan trait sebagai “struktur mental” merupakan suatu penyimpulan terhadap tingkah laku yang diobservasi yang menjelaskan tentang konsistensi dan keteraturan dari tingkah laku tersebut.

Jadi perbedaan konsep attitude dan aptitude mengacu pada area pembahasannya, jika membicarakan mengenai kemampuan maka aptitude lah konsep yang menjelaskan sedangkan attitude lebih menjelaskan konsep kepribadian atau erat kaitannya dengan konsep kepribadian.


Referensi :

Santrock, J. W (2003). Adolescene (6th ed).Jakarta; Penerbit Erlangga. 
Feist & Feist. (2010). Theories of Personality. (7th ed). Avenue Americas; New York
Rita L. Atkinson & Richard C. Atkinson & Ernest R Hilgard. 2001. Pengantar Psikologi 1. (edisi ke-8 Jilid 2). Penerbit Erlangga; Jakarta.
Sarwono, W. S.  2012. Pengantar Psikologi Umum. (cetakan ke-4): PT. Raja Grafindo Pustaka. Jakarta



-TERIMAKASIH-

Senin, 31 Maret 2014

Tes Kemampuan, Mental.


“KEMAMPUAN MENTAL? Di ‘tes’ juga toh ?”

Setelah kita mengetahui mengenai fokus dari tes psikologi dan bagaimana pendistribusian tes itu kepada populasi. Kita mempunyai satu masalah lagi mengenai fokus tes psikolog sendiri kemana? Tinjau kembali dari pengertian psychology à “psyche” jiwa  dan “logos” ilmu , yang sebelumnya sempat dijelaskan pada posting komentar psikologi dan psikodeiferensial dikatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa yang dijelaskan melalui tingkah laku.  Komponen psyche sendiri bermacam-macam, dalam satu individu terjadi banyak proses yang menjadikan individu tersebut dapat dilihat secara utuh, yakni ada kemampuan mental (jiwa) dan kepribadian. Kemampuan mental (jiwa) dan kepribadian ini yang menjadi dua konsern penting salah satu metode analisis individu yaitu tes psikologi. Saya berasumsi bahwa kedua tes ini tidak dapat digunakan hanya salah satu saja jika ingin jelaskan manusia secara keseluruhan selaras dengan yang dikatakan pada prisip gestalt dalam Sarwono Sarlito () yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa dilihat hanya per elemennya saja, maksudnya apa? Artinya ketika kita hendak terjemahkan aspek manusia secara keseluruhan menjadi satu kesimpulan yang umum yang dilakukan bukan hanya mempelajari tingkah laku terlihat seperti pada behavioris, atau kita pelajari proses mental saja seperti orang-orang psikoanalisis melainkan keseluruhan aspek individu sehingga membisa membentuk individu yang utuh yang sekarang ini menjadi subjek dari alat tes kita.

Baik untuk posting sesi ini mari kita bahas satu isu pendukung keberadaan manusia yakni kemampuan mental. Apa itu ?
Pengertian Kemampuan
Kemampuan biasa disebut ability adalah kapasitas seseorang dalam melakukan beragam tugas dalam satu pekerjaan. Kemampuan pada dasarnya terbagi kedalam kemampuan mental dan fisik , dalam Robin (2007).



Kemampuan mental terdiri atas kemampuan intelektual kemampuan inntelektual ini ada yang bersifat universal atau disebut intelegensi nantinya ada tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan secara umum dan ada yang bersifat khusus hanya dimiliki individu tertentu yang nantinya mnghasilkan tes bakat (tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan spesifik dari individu).

Kemampuan intelektual dalam Robins (2007) adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk berbaagai aktivitas mental seperti berfikir , menalar, dan memecahkan masalah. Individu yang memperoleh skor tinggi pada tes kemampuan intelektual ini dipengaruhi oleh beberapa alasan contohnya yang dipengaruhi lingkungan karena tingkat pendidikannya, dan faktor genetis. Individu yang memiliki skor rendah pada tes kemampuan mental pun memiliki faktor-faktor penyebab. Seperti dijelaskan pada posting sebelumnya bahwa tes kemampuan mental ini awalnya digunakan untuk mendiagnosa yang mengalami kelainan mental.


Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan yang melahikan pemikiran-pemikiran dan dialektika baru tes kemampuan mental ini dapat digunakan untuk keperluan lain selain diagnosa, contohnya tes recruitment perusahaan dibuat untuk meramalkan individu saat ini dan kedepannya dan tes-tes lainnya.




Beberapa pandangan tentang intelegensi yang dikemukakan beberapa ahli  yang disampaikan pada posting sebelumnya :
Spearman  mengakatan Bahwa seseorang memiliki intelegensi umum (g factor) dan intelegensi khusus (i factor dari kata spesifik). Spearman meyakini bahwa kedua faktor ini lah yang mempengaruhi intelegensi seseorang. Namun kebanyakan tes intelegensi mengabaikan faktor umum dan hanya berfokus pada faktor khusus nya saja. Oleh karena itu thurstone (1938) dalam adolscene (2003) mengemukakan mengenai teori faktor ganda yang mengemukakan bahwa intelegensi adalah 7 kemampuan mental dasar yang terdiri atas pemahaman verbal, kemampuan berhitung, kelancaran kata-kata , visualisasi ruang, ingatan asosiatif, penalaran dan kecepatan perseptual. RJ Stenberg (1986, 1990) dalam adolscene (2003) mengatakan teori yang berbeda mengenai intelegensi teorinya adalah Thriarchic theory yang mengatakan tentang tiga komponen utama penyusun intelegensi yaitu intelegensi komponensial, intelegensi eksperiensial, dan intelegensi kontekstual.
Bagaimana pandangan Gardner tentang intelegensi yang dijelaskan dalam posting sebelumnya yaitu Disebutnya tujuh kerangka pemikiran Gardner, intelegensi yang beragam ceritanya tentang seorang anak yang jago bermain basket dimana setla me rebound bola dia melempar bola, menghalangi musuhnya, memberi umpan kepada temannya untuk melakukan tembakan ke ring basket, menurutnya itu adalah kecakapan spasial kemampuan memahami ruang, dan bethoven seorang musisi klasik disebutnya memiliki intelegensi musikal (dalam Adolscene,2003). Garner menambahkan intelegensi terdiri dari intelegensi verbal, matematis, berfikir mendalam/ menganalisa dirinya serta keterampilan berpikir untuk menganalisa orang lain.


Gardner pun menambahkan bahwa ke-7 intelegensi nya ini dapat dirusak oleh otak dan bisa jadi pada salah satu intelegensi seseorang bisa sangat ekstrim contohnya pada anak gifted.

Kenapa penting bahas kembali teori ? karena menurut saya ini lah modal awal yang psikolog harus punya , kalau dia memang mau jadi psikolog ya harus begitu, selain melakukan aplikasi yah harus tau logos nya juga, logos artinya apa ? ILMU. Sebenarnya bisa saja tinggal hafal kalau tes intelegensi dan kemampuan intelektual itu bisa pake SAT, bisa Pake Weschler, atau Kraeplin, tapi ya nantinya bisa pake saja nda bisa bikin. Seperti dalam tahap pengembangan penelitian ilmiah yang perlu dilakukan adalah mengembalikan kepada teori, terkait itu mas setta pernah bilang bahwa penting sekali psikolog mempunya aliran sendiri, bagi mba-mba freudian silahkan baca bukunya freud yang untuk skinnerian silahkan pahami konsep skinner supaya bisa tentukan Assasement yang tepat.

Beberapa Tes Kemampuan Mental yang Sudah dikembangkan
1.      Tes Intelegensi
a.       Weschler Test
Tes Weschler yang terbagi dalam dua yaitu WAIS dan WIST à tes WAIS-T (Weschler Adult Intelligence scale-Revised) atau tes intelegensi untuk remaja dan orang dewas, dan WISC-R (Weschler Intelligence Test for Chlidren- revised) ditujukan untuk anak usia 6 – 16 tahun (Weschler;1981 dalam adolscene, 2003). WAIS dan WIST memberikan skor keseluruhan atau Full Scale maupun skor-skor indeks spesifik yang dapat diukur dengan berbagai kombinasi sub tes.
Beberapa kontroversi sempat lahir pada saat pengembangan tes intelegensi berkisar mengenai tuduhan pelabelan individu tuduhan pembelaan individu dan bias kultural, Bartolomewv (2006) dalam Gorth Marnat (2007). Salah satu kelebihan tes intelegensi adalah sebegai prediktor perilaku dan kemampuan mental dimasa mendatang. Seperti yang dilakukan Binnet saat menempatkan anak yang harus sekolah ke sekolah khusus dan sekolah umum. Kelebihan dari tes Weschler ini adalah memebrikan info akurat tentang kelemahan kognitif seseorang. Selain karena Wescler ini memang tes individual dimana tes yang hanya difokuskan untuk individu saja yang kelebihannya adalah memberikan konteks terstruktur kepada examiner yang dapat menggunakan berbagai tugas untuk observasi unik dan personal yang digunakan examiner dalam mendekati tugas-tugas kognitif.


Organisasi sub-tes WAIS IV
-          Verbal Comprehension à Subtes inti              : Similarities, vocabulary, Information
                                      àSubtes Suplemental      : Comprehension
-          Perceptual Reasoning       à Subtes Inti                  : Block Design , Matrix Reasoning, Visual                                                               Puzzle.
è Subtes Suplemental    : Figure Weights, Picture Completion
-          Working Memory   à Subtes Inti                  : Digit Span, Arithmetic
è Subtes Suplental        : Litter Number Sequencing
-          Pocessing Speed     àSubtes Inti                   : Symbol Search, Coding
è Subtes Suplemental    :Cancellation
Skala Ingatan Weschler (Weschler Memory Scale)
Skala ingatan yang diadministrasikan secara individual, dirancang untuk memungkinkan pemakainya lebih memahami individu. Keempat devinisi tentang skala ingatan weschler ini menunjukan kemajuan di bidang pemahaman teoritis tentang ingatan. Weschler Memoric Scale yang asli merefleksikan konseptualisasi non spesifik awal tentang ingatan, Weschler; 1945 dalam GorthMarnat  (2009). Skala ini terdiri atas prosedur pendek tentang ingatan untuk urutan angka, mengingat cerita desain visual sederhana, dan pemasangan kata. Prosedur-prosedur awal WMS dapat dibagi secara logis menjadi tugas visual spasial, dan auditorik tapi dalam peng skoran keseluruhan adalah memory quotient seperti pada skor akhir tes IQ. Sub tes ini adalah Auditory memory (Logical memory, Verbal paired Acosiates), Immadiate memory, Delayed Memory, Visual Memory.

Berikut pemaparan diatas adalah mengenai pengukuran dan alat ukur kemampuan mental yang termasuk dalam kemampuan intelektual.

2.      Cognitive Ability tes à untuk pengukuran assesment kognitif menghasilkan sub skor verbal, kuantitatif dan non verbal. Cogat sering digunakan dalam tes bakat.
3.      Summary of K-12 Group
SAT dan MAT untuk pengukuran prestasi.
4.      Kraeplin Test atau Pauli
Dikembangkan oleh psikolog bernama Emil Kraeplin. Kraeplin pada mula-nya menciptakan alat tes yang digunakan sebagai alat tes untuk diagnosiss gangguan dementia dan alzheimer. Selanjutnya 1938 Dr. Richard Pauli beersama Wilhelm Arnold dan prof Dr. Vanmenthod memperbaharui tes Kraeplin ini sehingga dapat digunakan untuk mendapatkan data kepribadian. Tes ini dikenal dengan istilah Pauli-Kraeplin yang terdiri dari beberapa aspek seperti:
-          Aspek keuletan (daya tahan)
-          Aspek kemauan atau kehendak individu
-          Aspek emosi
-          Penyesuaian diiri
-          Stabilitas diri

Dalam tes ini subjek hanya diminta untuk meengerjakan hitungan sederhana yaitu menjumlahkan deretan angka-angka. Namun yang jadi masalah adalah urutan angka-angka yang banyak. Banyak kesalahan yang kita buat menunjukkan kita termasuk orang yang tidak teliti dan tidak cermat, tidak hati-hati dan kurang memiliki daya tahan cukup terhadap stres atau tekanan pekerjaan (dalam buku Rahasia Psikotes, 2009).

Kesimpulan berdasarkan pemaparan dari jenis tes dan pengertian tes kemampuan mental ini menunjukkan pengembangan yang signifikan, pengembangan ini dilahirkan dari kritis yang merasa tidak cukup. Mereka tidak puas hanya dengan penjelasan yang dimunculkan oleh satu orang saja yang berkembang saat itu makanya mereka berdialektika dengan pendapat yang ada saat itu sampai menghasilkan sesuatu yangg orisinil dan baru, lalu kita ? tetap pengguna. Hehehe
Bagai pertanyaan retorika , pertanyaan itu setiap harinya selalu muncul di benakku dan tidak mendapat jawaban, karena aku tidak tau yang harus dilakukan apa.
Baiklah untuk kesimpulan resume materi ini saya merasa bahwa tes kemampuan mental ini dikembangkan pada awalnya yang hanya untuk mengetahui seseorang tergolong mengalami gangguan atau tidak menjadi banyak lagi tes-tes yang berkembang berdasarkan beberapa teori. Tes ini berkembang guna memenuhi kebutuhan asassement pada manusia juga yang seiring waktu berkembang, tidak bisa kalau tidak di upgrade kalau manusianya saja sudah serba canggih masa tes nya tidak di upgrade. Asumsi kedua yang saya dapat setelah meresume materi ini adaalah tidak ada suatu tes yang lahir tanpa adanya teori dan pemikiran seseorang terhadap teori tersebut seperti weschler yang gunakan kerangka spearman dan lainnya.


Bahwa ternyata dari sekian banyaknya aspek manusia hanya digolongkan pada suatu keseluruhan kemampuan mental dan kepriadian tanpa bermaksud menganjurkan kita untuk pahami salah satu, karena manusia itu mahluk yang unik dan beragam. Sekarang sudah ga jaman yang namanya pemikiran klasik aristoteles sekarang jamannya gardner , spearman, dan lainnya, besok jamannya masih ganti dan negara eropa pasti jadi pelopor untuk meng uprgrade , kita kapan?

“Nanti saja , Kapan-kapan”





Referensi :
Santrock, J. W (2003). Adolescene (6th ed).Jakarta; Penerbit Erlangga. 

Anastasi Anne, Susaba Urbina (2007). Tes Psikologi. Edisi Ke-7. Jakarta:PT Indeks.
Robbins, P Stephen & Timothy A Judge (2007). Organizational Behavior (12th ed).New Jersey: Pearson Education.