Rabu, 23 Juli 2014

“Gambaran Kearifan Lokal Indonesia ‘Cerita Perwayangan’ dengan Paradigma Ilmu Psikologi Barat yang Empiris”




“Gambaran Kearifan Lokal Indonesia ‘Cerita Perwayangan’ dengan Paradigma Ilmu Psikologi Barat yang Empiris”

Oleh:
Jhaihan Farah Nabila
6012210040
Fakultas Psikologi Univesitas Pancasila

BAB I
Latar Belakang

1.      Pendahuluan
Indonesia merupakan negara dengan beragam kekayaan yang tersusun dengan beberapa gugusan pulau didalamnya. Indonesia selain terkenal dengan kekayaan alamnya juga terkenal dengan berbagai kearifan lokalnya. Kearifan lokal yang dikenal dengan warisan nenek moyang salah satunya adalah wayang. Wayang  merupakan suatu karya yang diakui “adhiluhung” karya seni yang menurut saya padat nilai filosofis , nilai simbolis, dan nilai historis.  Wayang bukan hanya benda biasa yang dibuat untuk pertunjukan tapi benda yang biasa yang setiap pertunjukan akan melahirkan nilai-nilai filsafat hidup.
Sri mulyono (1979) mengatakan dengan tegas bahwa:
“Wayang adalah bahasa simbol dari hidup yang lebih bersifat rohaniah daripada lahiriah”

Unsur yang tidak bisa lepas dari jerat perhatian para penonton wayang sendiri adalah tokoh yang diceritakan dalam wayang. Nilai moral terdapat pada cerita wayang tersebut dan pada tokoh dalam wayang. Tokoh dalam wayang selalu meninggalkan kesan bagi para penikmat wayang. Terutama sifat baik dan buruk dari tokoh wayang itu sendiri. Wayang merupakan salah satu kearifan lokal yang nyata dimana didalamnya terdapat kepribadian yang berwujud peran yang diceritakan oleh tokoh wayang tersebut yang meninggalkan kesan-kesan tertentu bagi penikmatnya. Kepribadian dalam tokoh cerita wayang akan menarik untuk dianalisis karena didalamnya terdapat relevansi  langsung terhadap kebudayaan di Indonesia.  Selama ini perkembangan ilmu psikologi sendiri selalu berkiblat pada barat yang kita tahu perkembangannya selalu mengesampingkan hal-hal tidak empiris. Padahal banyak kearifan lokal yang dipunyai Indonesia yang bersifat universal dan tidak bias budaya, salah satunya wayang.  Psikodiagnostik sesi mas Seta kali ini akan memecahkan masalah ilmu empiris dan kaitannya dengan budaya lokal dengan melakukan analisis tokoh wayang dengan teori kepribadian yang berkembang di barat. Dengan begitu kita bisa melahirkan pemikiran internasional yang berkearifan lokal.








1.2.Sinopsis Ramayana
Raja Dasarata di Ayodya mempunyai beberapa istri. Dari Dewi Kosalya ia berputra Rama. Dengan istrinya yang ke-2 bernama Kaikeyi berputra seorang bernama Barata. Putra-putranya yang lain ialah Laksamana dan Satrugna. Putra-putranya ini dididik sebagaimana pendidikan yang diberikan para putra raja.

Dalam suatu sayembara Rama mendapat Dewi Sinta yang sangat, cantik sebagai istrinya. Dewi Sinta adalah anak raja Janaka yang memerintah di Mitila.Pada waktu Dasarata sakit ia pernah berjanji kepada Kaikeyi bahwa kelak tahta kerajaan akatt diserahkan kepada Barata, untuk membalas jasa Kaikeyi yang telah dengan tekun merawatnya.Setelah Dasarata tua, tahta kerajaan diserahkan kepada Rama. Karena itu Kaikeyi menggugat dan mengingatkan baginda akan janjinya dahulu. Tuntutan ibu tiri Rama itu ialah: (1) Barata harus dinobatkan menjadi raja Ayodya; (2) Rama harus dibuang dalam hutan selama 14 tahun.Dasarata harus menepati janjinya sebagai seorang ksatria dan dengan sedih ia menyampaikan keputusan atas tuntutan di atas.

Rama mengundurkan diri dan mengembara di hutan Dandaka selama 14 tahun bersama istri dan adiknya, Laksamana. Hal ini sangat mengharukan rakyat Ayodya yang sangat mencintai Rama. Karena sedih memikirkan hal itu maka mangkatlah Dasarata.

Pada suatu hari Sinta dirampas raksasa Wirada. Tetapi raksasa itu dapat dikalahkan Rama dan Laksamana. Pada hari lain Rama berjumpa dengan Surpanaka, adik perempuan raja Rahwana yang memerintah kerajaan Alengka. Surpanaka jatuh cinta kepada Rama, tapi Rama tidak mau tergoda. Begitu pula cinta Surpanaka terhadap Laksamana tidak mendapat sambutan. Bahkan Laksamana mengerat telinga dan hidung Surpanaka karena bencinya. Surpanaka segera mengadukan halnya kepada Rahwana (Dasamuka = sepuluh muka) yang sudah mengetahui kecantikan Dewi Sinta. Timbulah keinginannya untuk melarikan Dewi Sinta. Raja Rahwana segera mendatangi tempat perkemahan Rama dengan pengiringnya, Marica, yang dapat menjelma sebagai kijang emas. Marica menjelma menjadi seekor kijang emas dan mendekat ke kemah Dewi Sinta. Setelah terlihat oleh Sinta, inginlah ia memiliki kijang emas itu dan minta supaya Rama mau menangkapnya. Sebelum Rama berangkat mengejar kijang emas terlebih dahulu ia membuat lingkaran kesaktian mengelilingi kemah mereka. Siapa yang masuk ke lingkaran itu tidak dapat keluar lagi. Tapi semua ini telah diperhatikan dan diketahui oleh Rahwana dari jauh. Setelah Rama jauh dari kemah, mengejar kijang emas, terdengarlah pekik orang. Sinta mengira Rama mendapat bahaya. Segera Laksamana disuruh Sinta menyusul abangnya. Mula-mula Laksamana menolak, karena telah dipesan oleh Rama supaya Laksamana tidak meninggalkan Sinta, sebelum Rama kembali. Sinta lalu menyindir dengan mengatakan "Istri kakak lebih penting daripada kakak sendiri."

Mendengar sindiran itu, maka Laksamana menyusul abangnya. Rahwana segera menghampiri kemah menjelma seorang peminta-minta, berdiri di luar lingkaran kesaktian. Ia memohon agar Sinta dapat memberinya air minum karena ia sangat haus. Ketika Sinta mengulurkan air minum itulah Rahwana menarik tangan Sinta dan langsung dibawanya terbang ke Elangka tempat kerajaannya. Rama jatuh pingsan setelah kembali, Sinta telah menghilang dari kemah. Di udara burung Jatayu melihat Sinta dibawa oleh Rahwana. Jatayu segera menyerang Rahwana. Tapi ia terpukul bagian sayapnya oleh gada sakti Rahwana. Rahwana dengan mudah mengalahkan Jatayu karena ia mempunyai sepuluh muka yang dapat melihat segenap penjuru, selain mempunyai gada sakti. Untung saja Sinta sempat melemparkan cincinnya kepada Jatayu. Cincin itu diberikan Jatayu kepada Rama sebagai bukti tentang Sinta, setelah pada suatu ketika Rama sampai di hutan tempat Jatayu jatuh. Jatayu-lah yang sempat memberitahukan hal Sinta, sebelum ia menghembuskan napas terakhir.

Dengan pertolongan Kabanda, Rama dan Laksamana mendapat petunjuk supaya minta bantuan kepada Sugriwa raja kera, untuk menaklukkan Rahwana. Sugriwa mau membantu asalkan terlebih dahulu ia dibantu menaklukkan saudaranya, Walin, yang memusuhinya. Hanoman, Panglima Raja Kera, menyusup ke Alengka untuk mematai-matai Rahwana. Ia menyamar sebagai seekor kucing dan berhasil masuk ke istana Rahwana menemui Dewi Sinta. Tahulah ia bahwa Sinta tidak kekurangan sesuatu apa pun. Sinta sangat gembira berjumpa dengan Hanoman yang juga menyampaikan berita tentang suaminya. Tapi sayang ketika akan pulang ia tertangkap. Hanoman tidak jadi dibunuh setelah ia mengaku sebagai utusan. Sebagai ganti hukumannya, dibakarlah ekornya dengan mengikatkan bahan-bahan yang mudah terbakar. Dalam keadaan ekor terbakar Hanoman melompat-lompat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain yang menimbulkan kebakaran besar di Alengka. Senanglah hati Rama mendapat kabar dari Hanuman bahwa istrinya, Sinta, tidak diganggu Rahwana.
Rama mulai menyusun penyerangan. Untung sekali ia mendapat bantuan Wibisana, saudara Rahwana, yang menyalahkan perbuatan Rahwana melarikan Sinta. Dengan panah Rama yang sakti, Rama menghadapi Rahwana.Dalam peperangan itu Rahwana tewas dan Rama menang. Alenka diserahkan kepada Wibisana yang telah membantunya. Akhirnya masa pembuangan 14 tahun selesai. Rama dan Sinta pulang ke Ayodya dengan upacara yang diadakan secara besar-besaran



1.      Sinopsis Cerita Mahabrata

Secara garis besar, cerita Mahabarata bercerita mengenai kehidupan Prabu Santanu atau Sentanu (Çantanu). Dia adalah seorang raja keturunan keluarga Kuru yang menjadi raja kerajaan Barata. Dia mempunyai permaisuri bernama Dewi Gangga, dan berputra Bisma.Isi epos Mahabarata secara garis besar mengisahkan kehidupan Santanu (Çantanu) seorang raja yang perkasa keturunan keluarga Kuru dan bertakhta di kerajaan Barata. Bersama permaisurinya Dewi Gangga, mereka dikaruniai seorang putra bernama Bisma.

Pada suatu hari Çantanu jatuh cinta pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan putrinya jika Çantanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena syarat yang berat ini Çantanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk mewarisi takhta Çantanu.

Perkawinan Çantanu dan Setyawati melahirkan dua orang putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak menikah.
Akhirnya Setyawati meminta kepada Wiyasa, anaknya dari perkawinan yang lain, untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Perkawinan dengan Ambika melahirkan Destarasta dan dengan Ambalika melahirkan Pandu. Destarasta lalu menikah dengan Gandari dan melahirkan seratus orang anak, sedangkan Pandu menikahi Kunti dan Madrim tapi tidak mendapat anak. Nanti ketika Kunti dan Madrim kawin dengan dewa-dewa, Kunti melahirkan 3 orang anak masing dengan dewa Darma lahirlah Yudistira, dengan dewa Bayu lahir Werkodara atau Bima dan dengan dewa Indra lahirlah Arjuna. Sedangkan Madri yang menikah dengan dewa kembar Aҫwin, lahir anak kembar bernama Nakula dan Sadewa. 

Selanjutnya, keturunan-keturuan itu dibagi dua yakni keturunan Destarasta disebut Kaum Kurawa sedangkan keturunan Pandu disebut kaum Pandawa.Sebenarnya Destarasta berhak mewarisi takhta ayahnya, tapi karena ia buta sejak lahir, maka takhta itu kemudian diberikan kepada Pandu. Hal ini pada kemudian hari menjadi sumber bencana antara kaum Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan takhta sampai berlarut-larut, hingga akhirnya pecah perang dahsyat yang disebut Baratayuda yang berarti peperangan memperebutkan kerajaan Barata.

Peperangan diawali dengan aksi judi dimana kaum Pandawa kalah. Kekalahan ini menyebabkan mereka harus mengembara di hutan belantara selama dua belas tahun. Setelah itu, pada tahun ke-13 sesuai perjanjian dengan Kurawa, para Pandawa harus menyembunyikan diri di tempat tertentu. Namun para Pandawa memutuskan untuk bersembunyi di istana raja Matsyapati. Pada tahun berikutnya, para Pandawa keluar dari persembunyian dan memperlihatkan diri di muka umum lalu menuntut hak mereka kepada Kurawa. Namun tuntutan mereka tidak dipenuhi Kurawa hingga terjadi perang 18 hari yang menyebabkan lenyapnya kaum Kurawa. Dengan demikian, kaum Pandawa dengan leluasa mengambil alih kekuasaan di Barata.

BAB II
Kajian Teoritis

2.1. Teori Kepribadian Eyesenck

Hans Jurgen Eyesnck

A.    Pengukuran Kepribadian
Teori Eyesenck memiliki komponen psikometris dan biologis yang kuat
Didasari oleh spearman dan pavlov:
Spearman à kepribadian dapat diukur dan diselidiki secara psikometrik.
Pavlop à terdapat komponen biologis dari kepribadian.

Empat Kriteria untuk mengidentifikasi kepribadian:

1.      Adanya fakta-fakta psikometrik untuk eksistensi faktor tersebut, faktor tersebut harus reliable dan dapat direplikasi.
2.      Faktor tersebut harus memiliki heredity à aspek keturunan
3.      Faktor tersebut harus masuk akal dari pandangan teoritis à terdapat data-data yang secara logis konsisten dengan teori tersebut.
4.      Faktor tersebut harus mempunyai relevansi sosial à memiliki hubungan dengan variable-variable yang relevan secara sosial, seperti perilaku psikotik, kriminalitas dll.

B.     Hirarki Pengukuran Kepribadian

1.      Tindakan Spesifik atau Kognisi:
Perilaku atau pikiran individu yang merupakan karakteristik atau bukan karakteristik individu. Misalnya, seorang mahasiswa menyelesaikan tugas tepat waktu.

2.      Habbit
Tindakann kebiasan atau kognisi kebiasaan = respon-respon yang berulang pada kondisi yang sama. Misalnya, mahasiswa sering kerjakan apapun sampai selesai dan disiplin.

3.      Trait
Respon kebiasan yang saling berhubungan.

4.      Type
Terdiri dari trait yang saling berhubungan.



Text Box: TRAIT
 






Per
 















1.      Dimensi Kepribadian

a.       Ekstraversion (E) à sociable, lively, Active, Assertive, Sensation Seeking, Careless, Domminant, surgent.

b.      Neurotichism (N)à anxious, depressive, guilty feeling, low self esteem, tense, irrational, shy, moody.

c.        Psychotichism (P)à Agressive, cold, Egosentris, Impersonal, Impulsive, Anti social, Unemphatic, Creative, Tough.





Ketiga faktor à P E N à Bipolar

-          Kutub Ekstraversion dan Introversion
-          Faktor Neurotichism  dan kutub stabilitas
-          Faktor Psychotichism dengan fungsi super ego


2.      Pengukuran Superfaktor
Eyesenck mengembangkan empat inventori kepribadian yang mengukur super faktor

a.       The maudsley Personality Inventory (MPI) à mengukur E dan N
b.      Eyesenck Personality Inventory (EPI) à mengukur extraversion dan neurotichism secara independen EPI mempunyai skala kebohongan/ lie scale untuk mendeteksi jawaban Faking.
c.       Eyesenck personality Quistionare (EPQ)


2.2. Metode Pengumpulan Data
a.      Jenis data
a.1. Data Primer
Merupakan data yang didapat langsung dari subjek yang bersangkutan dengan cara wawancara, observasi dan sebagainya, peneliti berkontak langsung dengan populasi.
a.2. Data Sekunder
Merupakan dara yang tidak didapat secara langsung dari subjek yang bersangkutan dengan artian peneliti tidak kontak secara langsung dengan populasi. Data seperti ini peneliti dapatkan melalui dokumen-dokumen atau study kasus berdasarkan literatur terdahulu.
Untuk membuktikan relevansi teori terhadap kearifan lokal wayang kali ini penulis melakukan study kasus dengan tipe data sekunder.









BAB III
Analisis Tokoh

3.1. Cerita Mahabarata
3.1.a. Tokoh Bima
Bima atau Bima Sena diceritakan sebagai tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabarata. Bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya berhati lembut. Bima setia pada satu sikap yaitu tidak suka berbasa-basi dan tidak bersikap mendua. merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya.
Bagaimana Eyesenck menjawab kepribadian Bima?

Eyesenck (Feist & Feist, 2010) mengatakan bahwa manusia memiliki komponen biologis dalam wujud trait yang kutubnya saling berlawanan dan bipolar dimana intensitas tiap kutub ini lah yang akan membedakan kepribadian yang satu dengan yang lainnya. Bima yang diceritakan kasar dan menakutkan saat peperangan namun juga memiliki hati yang lembut dapat dijelaskan oleh kutub Psychotichism dan Fungsi super Ego. Dimana bima juga memiliki sifat kasar namun sifat kasarnya ini hanya pada musuh sejalan dengan ciri-ciri yang dikemukakan oleh eyesenck dimana ketika individu memiliki kutub P tinggi dia akan tangguh, agresif, dingin dan impulsif. Kutub P yang tinggi ini dapat menjadi indikasi bagi gangguan psikologis ketika individu memiliki P tinggi dan N tinggi Individu tersebut mungkin mengalami gangguan psikologis. Namun untungnya kepribadian Bima dengan P tinggi ini yang setiap kutub nya bersifat bipolar dapat diimbangi dengan kutub lawannya yaitu super ego. Dimana P bima ini diimbangi dengan Fungsi yang super ego yang menceritakan Bima sebagai tokoh yang siap membantu dan memiliki empati terhadap keadaan sekitar. Fungsi super ego pada Bima adalah altruisme dan Empati. Hanya saja Intensitasnya ada yang lebih besar dan lebih kecil terkadang.

Anilisis kepribadian Bima ini dilakukan dari beberapa hierarki pengukuran kepribadian. Bima dikatakan pada kutub P  karena diceritakan bahwa Bima memiliki kebiasaan untuk tetap pada pilihannya , selalu siap ketika menghadapi musuh. Menjai suatu habbit dimana bima sebagai tokoh yang ditakuti lalu muncul lah trait-trait bima yang mencirikannya menjadi seorang pahlawan hingga kepada type nya seorang kesatria.




3.1.b Druyodana
Tokoh antagonis utama dalam cerita Mahabarata, merupakan musuh terbesar pandawa dan dikalahkan oleh bima dalam perang mahabarata. Disebut dalam cerita merupakan inkarnasi dari iblis kali. Lahir dari pasangan Dretarastra dan Gandari. Tokoh korawa yang diceritakan sangat licik dan kejam namun berwatak jujur dan terbiasa dimanja orang tuanya. Sejak memiliki masalah sengketa tahta Druyodana menceritakan permasalahannya sekaligus meminta saran pada pamannya sangkuni yang diceritakan licik dan berlidah tajam. Druyodana pun menceritakan kendala nya pada Ibunya saat ingin menghadapi Pandawa yang selalu membuatnya iri dan hatinya jengkel namun selalu gagal karena perlindungan krisna dan puncaknya saat kemarahannya pada dropadi sampai diberikan kekuatan oleh ibunya , namun kalah saat menghadapi Bima pada Barathayudha.

Karakter druyodana dikatakan memiliki P lebih tinggi dari pada kutub lawannya yaitu super ego, diperlihatkan dari sifat-sifatnya yang selalu iri selalu kejam saat irinya memuncak dan merencanakan balas dendam dengan hasutan dan cara-cara licik dari sangkuni. Selain P tinggi sangkuni juga memiliki tingkat N tinggi ditunjukan dari self esteem nya yang rendah dan meminta pada ibunya untuk memberikan kekuatan padanya agar dia tidak terkalahkan oleh musuh-musuhnya. Kecemasannya dengan kekalahan karena mengetahui lawan yang tangguh mendorong Druyodana untuk meminta kekuatannya pada ibunya namun sayangnya kekuatan itu harus tidak berlaku pada area bawah perutnya. Jika druyodana tidak memiliki N tinggi maka dia akan yakin pada kemampuannya menghadapi Bima. Dryodana pun memiliki I tinggi terlihat dari bagaimana dia hanya menceritakan permasalahannya hanya pada ibu dan pamannya Sangkuni.

3.1.c. Arjuna
Arjuna diceritakan bsebagai teman dekat Kresna merupakan penjelmaan dewa wisnu. Arti kata Arjuna sendiri adalah Bersinar terang , putih dan bersih. Dalam menjalani masa penyamaran dia berperan menjadi beberapa tokoh (tercatat dalam kitab warataparwa). Dia seseorang yang memiliki keahlian memanah sejak kecil oleh karena itu selalu digambarkan dalam beberapa gambar sebagai kesatria dengan panah. Cerdik dan suka menolong diperlihatkannya saat ceritanya menolong gurunya Drona saat hendak menggigit gurunya.
Tokoh Arjuna dijelaskan dengan teori Eyesenck memiliki tingkat Super Ego yang tinggi  ditujukan dengan kecenderungannya pada altruisme yang diperlihatkannya saat menolong gurunya dan bima dalam peperangan. Dan tingkat E yang tinggi dimana ciri-ciri E adalah  sociable, lively, Active, Assertive, Sensation Seeking, Domminant, surgent.





3.2. Ramayana
3.2.a. Rama
Rama diceritakan sebagai seseorang bermoral tinggi, seseorang yang sangat memegang janjinya seperti ayahnya Dasarata. Peperangan yang terdapat dalam cerita Ramayana tercermin dalam tokoh utama Rama yang sangat pemberani dan siap memerangi kejahatan yang disimbolkan oleh tokoh Rahwana terutama saat penculikan pada Sinta. Sikap pemberani pun dimiliki Rama dengan Tekadnya untuk melawan Rahwana dan menyelamatkan Sinta.
Rama memiliki tipe E tinggi dan Berada Pada fungsi super Ego ditujukan dari kegigihannya untuk terus berusaha melawan Rahwana Yang kejam saat Itu, Eyesenck mengatakan jika seseorang berada dalam fungsi ini maka dia akan memiliki empati tinggi dan altruisme (Feist & Feist, 2010). Tokoh rama pun diceritakan sangat setia pada wanita dan berkomitmen tinggi yang nantinya akan menjadi dasar kegigihannya untuk melawan Rahwana yang jahat.

3.2.b. Rahwana

Tokoh rahwana diceritakan jahat dan licik bahkan dia menculik Sinta. Licik dan cerdik ditunjukannya dengan berbagai macam cara yang dia lakukan untuk menculik Sinta dari menyamar dan cara-cara lainnya.
Berdasarkan cerita yang dipaparkan dalam sinopsis Rahwana termasuk pada kutub tipe P tinggi dan fungsi super ego rendah. Sifatnya yang licik dan jahat mendorongnya untuk jahat dan tidak berempati terhadap kesedihan Rama saat ditinggalkan Sinta bahkan jatuh pingsan. Rahwana juga memiliki ciri lain yaitu kreatif dalam melakukan usaha jahatnya dimana dikatakan ketika seseorang memiliki P tinggi dia akan terlihat kreatif dalam melakukan upaya-nya.




BAB IV
Kesimpulan & Diskusi

Kesimpulan dari pembahasan kali ini tentang pembahasan teori barat dan relevansinya pada cerita kearifan lokal ini adalah beberapa teori relevan untuk menjelaskan cerita ini tergantung dari tujuan dari diagnosis sendiri. Untuk menjelaskan gangguan kah atau untuk sekedar mengklasifikasikan kepribadian atau untuk mengetahui penyebab kepribadian itu muncul.
Terfokus pada salah satu ilmu pengetahuan saja sama dengan kita menutup kesempatan untuk pengetahuan kita tidak berkembang semestinya. Beberapa teori bisa jelaskan beberapa bagian dari manusia yang kompleks namun tidak ada teori yang benar-benar komprehensif. Seperti permasalahan wayang ini ketika pertanyaanya adalah gambaran tokoh berdasarkan tipe kepribadian maka trait theory tepat untuk jelaskan namun trait theory ini relevan apabila ada tingkah laku yang terlihat dari cerita atau individu yang ingin diketahui. Masalah mana yang lebih valid tentulah keseluruhan orang akan jawab barat lebih valid karena berdasarkan penelitian, namun ternyata sebelum itu berkembang kita sudah memiliki kearifan lokal. Tidak jarang prodak manusia licik di masa kini adalah gambaran para wayang di masa lalu, yang terpenting adalah mau mengembangkan kearifan lokal dan merelevansikan degan teori nya melalui analisis ketajaman kita pada pengetahuan dan menegakan diagnosis.

a.      Diskusi

Studi kasus ini dibuat untuk melatih kemampuan diagnosis kita terutama dalam hal menguji relevansi teori yang berkembang di perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang psikologi. sebagai seorang psikolog yang bermain dengan ilmu pengetahuan haruslah memiliki pengetahuan yang komprehensif terhadap bidang ilmu yang diminati. Dengan tidak serta merta menerima ilmu pengetahuan yang sudah besar dan berkembang lalu tidak mau mengembangkan. Individu ini bergerak megikuti jaman yang ter –Upgrade oleh karena itu kadang-kadang ilmu pengetahuan dalaam teori kurang relevan untuk dijelaskan saat ini. Berdasarkan study kasus diatas diharapkan para civitas ilmu psikologi dapat menajamkan kembali kemampuan untuk diagnostik dan pengetahuan akan teori secara eklektik, karena satu teori saja tidak cukup dan benar-benar komprehensif untuk menjelaskan satu kasus yang juga kompleks. Selain itu sebagai bagian dari dunia dengan sejarah kearifan lokal yang tertulis sebagai seorang psikolog harus menanamkan beberapa relevansi nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki.



DAFTAR PUSTAKA
Feist & Feist. (2010). Theories of Personality. (7th ed). Avenue Americas; New York




Keluhan Kami. Janji Kami? Pemuda.

"Lir-ilir !"



Bangkit dan bangun-lah sebelum nusantara di bumi hanguskan oleh para penghisap…

Nusantara itu indah, dulu.
Keindahannya membuat semua manusia terlena, membuai diri dengan keserakahannya pada kekayaan alam nusantara-KU! Kemudian satu orang berpikir bahwa negeriku tidak akan habis dimakan oleh keserakahan-Nya. Itu baru satu, sayangnya sekarang banyak dan bukan hanya satu yang memikirkan hal yang sama.

Sama bukan untuk keselarasan, tapi sama untuk sebuah kehancuran. Semua tak sadar karena ini perlahan. Belum semua berteriak karena hanya kami-kami yang setiap harinya makan dengan tahu dan tempe-lah yang tahu rasanya kelaparan. Tidak semua karena hanya kami-kami ini lah yang tidak sanggup bayar biaya rumah sakit yang akhirnya harus rela meregang nyawa dalam gubuk indah penuh penderitaan kami.

Rakyat. Yang punya hak untuk bersuara dibuat bisu dengan kecanggihan gadget-nya.
Berita tentang perkembangan Negara pun tak banyak yang tahu. (berdecak) .. karena memang semua kebusukan mereka hanya tuhan dan mereka pembuat kebusukan itu lah yang tahu.
Mereka-merka ini yang ku maksud adalah para petinggi yang menuhankan kepentingannya dan menjauhkkan KAMI dari rasa cinta KAMI pada bangsa yang memang milik KAMI.
Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah konsepsi kami tapi praktiknya selalu sedikit biadab. Maap bukan berlebihan, tapi hanya memberikan uang pada rakyat tanpa menunjukkan bagaimana cara mendapatkannya hanya akan membuat mereka menjadi generasi yang terus “meminta” ketika kelaparan.
Tuhan dengan sempurna menciptakan kita akal dan pikiran untuk keluar dari permasalahan, tapi kenapa manusia ber-Jas itu menduduki nya dengan berbagai pemberian yang membuat mereka berhenti pada budaya “Meminta”, bukan berusaha mendapatkan.

Negara yang dibentuk dengan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa malah dibuat untuk membodohi kami-kami ini yang tidak memakai Jas dan mobil mewah seperti anda?

Negara yang dibuat dengan tujuan menciptakan perdamaian dunia tapi mengapa justru jadi Negara yang paling diam saat salah satu penghisap melumpuhkan dan mengakhiri kesempatan manusia untuk hidup dengan serangan rudal-nya?

Apa sebenarnya yang terjadi pada Negara ini, kami seolah-olah dibuat muak dengan politik oleh pemberitaan media mengenai kasus wakil rakyat korupsi, atau pemberitaan media mengenai perang kekuasaan tertinggi yang keduanya sama-sama ingin menduduki.

Aku sebagai sebagian kecil dari kehidupan Negara ini merasa iba. Terlebih pada diriku sendiri. Mengapa aku harus jadi bagian dari yang menduduki ideology, nilai, dan konstitusi sendiri?

Kematian karena kelaparan. Kematian karena tidak mampu membeli obat. Kematian karena perang yang ditengahi kepentingan. Kematian karena merasa tidak mampu melihat ketidak adilan. Setan yang paling mengerikan yang diciptakan oleh para TIRANI ber-lebel  gelar tanpa Integritas.
Aku tidak bisa diam menghadapi apa yang aku lihat. Aku tidak bisa tinggal menduduki kepalaku sendiri dan merasa aman karena bukan aku yang kelaparan atau bukan aku yang ditolak rumah sakit karena tidak punya uang.
Aku merasa aku bagian dari negeri ini. Indonesia-Ku dengan sejuta sejarah, nilai, budaya, kekayaan dan pederitaan orang-orang terdahulunya. Aku berhak atas Negara-KU tapi tidak atas ketidak jujurannya.

Merubah itu bukan hal yang sulit. Karena aku memulainya dengan merubah diri-Ku. Besar harapanku perubahan diri-ku yang lebih baik akan merubah teman-teman disekitar-KU, mereka akan merubah satu orang lainnya sama seperti saat mereka berubah karena melihat-Ku.

Negara ini milik kita. Apapun yang terjadi ketika Negara ini ada maka tanggung jawab, hak nya atas kekayaan alam dan kewajiban untuk menjaga-nya adalah milik kita. Jika kita hanya menuntut hak saat perut kita kelaparan maka apa bedanya kita dengan para penghisap? Bedanya mereka pakai jas kita pakai baju kusam.

Bangkitkan dulu monster dalam diri kita. Jika sudah bangkit satukan semangat kita dalam nasionalisme , konsepsi pancasila, dan Merah dan Putih. Luluh lantahkan apapun itu yang memang seharusnya di hancurkan. Bukan di bunuh melainkan dihilangkan. Bukan di binasakan melainkan kita yang menegakkan diri sama seperti mereka.
Keadilan , kemanusiaan, ketuhanan, persatuan, kebangsaan, berdiri di kaki sendiri. Tujuan kita untuk sama-sama bangkit dari keterpurukan moral.

LIR – ILIR!

"Ditulis oleh: Jhaihan Farah Nabila" 

Selasa, 27 Mei 2014

“Know and controle your personality Immadiately! or you be “Next” Hannibal Lecter”



A.     Personality  (who Am I? Killer? Nice? Human Being?)
A.1. Alport
Terdiri dari organisasi sistem psiko fisik yang menentukan cara penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya (Alport dalam Feist & Feist,2008). Alport mengatakan bahwa kepribadian seseorang terbentuk dari trait (komponen psikis)  yang saling berhubungan, dan didalamnya dipengaruhi pula oleh faktor fisik. Faktor psikis dan fisik akan membentuk suatu kepribadian yang ditampilkan maupun tidak ditampilkan guna menyesuaikan diri dengan lingkungan.
A.2. Freud
Freud mengatakan bahwa personality adalah dinamika yang terjadi antara struktur ID , EGO dan SUPER EGO , Freud mengatakan bahwa tahap pembentukan kepribadian pada seseorang sangat ditentukan pada masa kanak-kanak dengan berhasil atau tidaknya anak tersebut melalui setiap tahap psikoseksual  dimulai dari anal sampai dengan genital. Jika salah satu terganggu maka akan mengalami gangguan yang dimunculkan saat dewasa (Feist & Feist, 2008). Teori kepribadian yang dikemukakan Freud sangan di motivasi oleh faktor ketidak sadaran berupa dorongan primitif terdiri atas eros (dorongan untuk hidup, berkembang biak dan kebutuhan akan seks), dan tanatos (agresi atau mati), ego sebagai komponen kesadaran yang mengatur dinamika ID , EGO, dan SUPER EGO , ketika tidak sesuai atau berlebihan yang biasanya dilakukan manusia adalah mencari fiksasi atau melakukan defense mechanism.
            A.3. Eyesenck
Hans  Jurgen Eyesenck (dalam Feist & Feist 2008) mengungkapkan mengenai kepribadian dimana kepribadian itu memiliki komponen psikometri dan bilogis yang kuat, pemikiran eysenck didasarii oleh pavlov bahwa semua prilaku punya komponen biologis , dan mempunyai data psikometri artinya harus terukur. Masalah ketika harus terukur adalah menentukan hal objektif  yang terlihat bisa diamati dan diukur baik frekuensi intensitas dan lain-lain.  Dalam Eyesenck  kita melihat kepribadian seseorang berdasarkan trait yang bisa diamati dengan data psikometri.
Eyesenck mengungkapkan mengenai hierarki pengukuran kepribadian (Dalam Feist & Feist, 2008):





A.     Hirarki Pengukuran Kepribadian

1.      Tindakan Spesifik atau Kognisi:
Perilaku atau pikiran individu yang merupakan karakteristik atau bukan karakteristik individu. Misalnya, seorang mahasiswa menyelesaikan tugas tepat waktu.

2.      Habbit
Tindakann kebiasan atau kognisi kebiasaan = respon-respon yang berulang pada kondisi yang sama. Misalnya, mahasiswa sering kerjakan apapun sampai selesai dan disiplin.

3.      Trait
Respon kebiasan yang saling berhubungan.

4.      Type
Terdiri dari trait yang saling berhubungan.


Memahami kepribadian dari beberapa ahli memang berbeda tapi pada intinya kepribadian menentukan cara penyesuaian diri terhadap lingkungan. Kepribadian dibentuk karena perkembangan kepribadian sebelumnya, sangat penting untuk kenali diri kita lebih awal siapa kita, bagaimana kita, agar kepribadian yang terbentuk sehat baik fisik maupun komponen psikis guna menyesuaiakan diri dengan baik di lingkungan. Adakah masalah kerpribadian yang membahayakan? Ada meskipun baru sebagian kecil tapi pasti ada  entah itu korban atau pelaku-pelaku  yang lain.







“Hannibal is Canibal, Hannibal analysis of personality”

A.     Synopsis Hannibal Lecter
As Psychiatric  Forensic .

Lecter seorang psikiatris forensik yang cerdas namun merupakan pembunuh berdarah dingin, diceritakan dalam silence of the lamb Lecter berada dalam penjara karena melakukan berbuatan keji yaitu menjadi pembunuh dan seorang kanibal. Dalam Silence of The Tamb Lecterl mengendalikan dengan dingin kasus pembunuhan sadis yang dilakan oleh seorang tersangka yang memang pasien dari Lecter sebelumnya. Dalam hal ini lecter dimintai keterangan oleh salah seorang agen FBI untuk memberikan petunjuk mengenai kasus pembunuhan berantai dan kejahatan seksual terutama saat itu penculikan pada putri senator Amerika. Pada Hannibal (2001) tokoh Hannibal Lecter tidak begitu menonjol karena dalam seri kali ini memuat mengenai lepasnya Lecter dan Pencarian Lecter, Lecter membunuh beberapa lawannya dengan keji dan menyeramkan. Berikutnya dalam Red Dragon tokoh lecter diceritakan protgonis dimana Lecter membantu agen FBI yang sebelumnya berhasil menangkap Lecter memberikan keterangan teka-teki kasus pembunuhan berantai yang korbannya adalah keluarga-keluarga.
Pelaku pembunuhan sadis ini sebelumnya sempat mengalami sadisme pada masa kanak-kanak oleh neneknya yang menyebabkan trauma dan mencari fiksasi dengan meniru dan terinsirasi oleh cara Lecter membunuh korbannya. Lalu pada Hannibal Raising menceritakan kisah hidup Lecter ketika kecil , dimana dia harus melihat tidakan sadis saat perang tersebut yang menewaskan orang tuanya, menyaksikan adik-nya Mischa menjadi korban kanibalism, saat dewasa Lecter mulai dihantui oleh potongan-potongan mimpinya tentang adiknya Mischa , Lecter tumbuh menjadi seseorang yang dingin, jahat dan sadis, setelah Lecter mengingat memorinya mengenai kejahatan terhadap Mischa, Lecter mulai membalas dendam adiknya Mischa, karakternya sebagai pembunuh dimulai dari pertama kali dia membunuh dengan sadis tukang daging yang menghina bibi nya, lawan main Lecter adalah anggota FBI yang juga sama-sama korban kejahatan perang.

B.     Beberpa teori menjelaskan Kepribadian yang dimiliki lecter :
-          Surface Trait (trait permukaan) merupakan sifat yang terlihat dan dimunculkan seseorang ke permukaan (cattel dalam Feist & Feist ).  Dalam hal ini surface trait yang dimiliki lecter adalah dingin, pendiam, sadis, anti sosial, tidak memiliki empati, kreatif menemukan metode untuk balas dendam dan mengingat ingatan masa kecilnya yang ditunjukan melalui beberapa cara membunuh korban-korbannya.

-          Source trait (trait dasar ) Merepresentasikan variable-variable yang mendasari , menentukan manifestasi trait-trait yang muncul di permukaan.
Dapat dilihat melalui alasis faktor yang mengestimasikan faktor-faktor yang menjadi dasar tingkah laku permukaan.

Setelah melalui beberapa analisis faktor-faktor trait yang muncul ke permukaan source trait untuk Lecter yang digambarkan di film sebagai seorang pembunuh kejam dan seorang psikopat(Feist & Feist ,2008).

Cattel mengatakan bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang memungkinkan untuk memprediksi seseorang pada situasi tertentu (Feist & Feist , 2008). Tingkah laku berjalan menurut hukum dan dimotivasi oleh dynamic trait. Dynamic trait adalah motif yang mendasari seseorang untuk  berprilaku dan mencapai tujuan, dynamic trait diantaranya pertama Attitude tindakan tertentu/ keinginan bertindak untuk merespon situasi tertentu dalam hal ini kecenderungan Lecter untuk mengeluarkan trait sadisme , tidak berempati, dingin, pendiam ditujukan oleh Lecter sebagai respon terhadap situasi nya saat setelah mengingat masalalu menyakitkan yang dialami adiknya dan pada saat menemukan orang-orang yang memakan adiknya , setelah muncul memori tersebut tindakan Lecter menjadi Impulsiv dan akhirnya membunuh korban dengan cara yang sama. Bagaimana trait itu bisa konsisten dan menjadi trait dasar atau kepribadian adalah karena adanya konsistensi, sikap Lecter diatas terulang ketika lecter mendapatkan stimulus dan tiba-tiba mengingat kejadian semasa kecilnya dan melihat pelaku kejahatan pada adiknya tersebut. Stimulus secara tiba-tiba tersebut yang menjadi komponen kedua yaitu Ergs berupa dorongan primitif yang dibawa sejak lahir, insting yang terdapat pada Lecter adalah insting untuk agresi yang disebabkan misalkan karena tiba-tiba teringat kisah tentang adiknya, atau pada saat dipasar bibinya digodai.
Komponen berikutnya adalah sems atau trait yang diperoleh dan dipelajari dalam hal ini adalah kreativitas yang dimiliki oleh Lecter untuk memangsa musuh nya , caranya mengeluarkan kembali musuhnya melalui ingatannya dengan menyuntikkan morphine dan Lecter mengingatnya dengan mimpi dalam mimpi tersebut Lecter menyatukan semua potongan ingatannya menjadi utuh sampai mengingat kembali kejadian Mischa.

Eyesenck menjawab Lecter?
Dinamika kepribadian yang dikemukakan Eyesenck terdiri dari tiga dimensi yaitu P(Psychotichism), E (Ekstraversion), N (Neurotichism). Semua kutub tersebut bipolar kutub Psychotichism (psikopat) lawannya adalah Fungsi super ego dicirikan dengan altruism , high empathy. Kutub Ekstraversion lawannya adalah kutub intraversion kutub ini melihat bagaimana seseorang mengarhakan energi, yang terahir kutub neurotichism lawannya adalah keadaan stabil. Semua orang memiliki kecenderungan masing-masing kutub tersebut hanya pada intensitas yang normal. Eyesenck memiliki Kutub P ,N , dan I yang tinggi. Kutub P ditandai dengan sifatnya yang Agressive saat membunuh korban-korbannya , cold, Egosentris, Impersonal, Impulsive saat bertemu dengan dendam masa lalu nya, Anti social, Unemphatic terlihat dari bagaimana cara Lecter membunuh semua korbannya , Creative, Tough Minded.

Kutub Kecemasan (N)  yang tinggi ditunjukkan oleh Lecter dalam Hannibal Rising dimana tokoh Lecter ketika muda diceritakan mendapat potongan-potongan ingatan mengenai kekejaman yang dialami Mischa dan potongan-potongan mimpi Lecter yang tidak pernah utuh menyebabkan Lecter memiliki beberapa ciri Tipe pencemas yaitu   depressive, guilty feeling, low self esteem, tense, irrational, shy, moody.
Kutub P dan N merupakan dasar untuk mendiagnosis sebagai gangguan psikologis (Eyesenck dalam Feist & Feist,2008). Jadi jika Eyesenck menjawab fenomena Lecter pembunuh sadis maka Eyesenck akan menjawab bahwa Lecter menjadi pembunuh sadis karena kepribadiannya yang merupakan faktor biologis berada pada kutub P (psikopatis) tinggi, Kecemasan (N) tinggi. Trait-trait tersebut yang menyebabkan Lecter menjadi tokoh yang kejam dan dingin saat membunuh korbannya saat balas dendam dan setelahnya.

DSM  menjawab  Penyakit Lecter itu Psikopat?
Dalam DSM IV tidak disebutkan istilah psikopat secara tersendiri dalam kategori gangguan atau penyakit. Namun Hervey Cleckey seorang Dr yang merintis tentang psikopat menggambarkan beberapa ciri-ciri psikopat sebagai pribadi yang like able, charming, inteligent, alert, impressive, confident Inspiring ( Novel The Mask of Sanity, dalam Here 1993). Ciri-ciri yang dikemukakan oleh Hervey dalam novel tersebut sama dengan okoh lecter yang diambarkan dalam cerita Hannibal ini dimana Lecter menjadi seorang dokter yang cerdas, tampan, mengagumkan dengan pengetahuannya namun memiliki sisi gelap sebagai pembunuh dan memiliki sisi tidak bertanggung jawab, dan merugikan masyarakat.

DSM II mengganti istilah Psikopat menjadi sosiopat atau perilaku pelanggaran norma dalam masyarakat dan masyarakat lah yang menjadi korban. Walaupun dalam film ini yang menjadi korban adalah sebagian orang yang pernah berurusan dengan Lecter namun efeknya tetap terasa bagi seluruh masyarakat kota waktu itu, ketakutan akan menjadi korban, apalagi ketika pembunuh-pembunuh lain yang sadis bermunculan yang tercipta karena terinspirasi oleh Lecter.

DSM IV mengklasifikasikan dan memasukkan istilah psikopat sendiri menjadi 10 gangguan kepribadian , yang diantaranya terdapat Anti social Personality disorder namun diantaranya masih mirip-mirip dengan ciri-ciri psikopat. Dalam buku without conscience psikopat diatrikan sebagai “Personality disorder defined by destinctive cluster of behaviors and inferred personality trait, most of which society views as pejorative”. Cluster behavior yang dimaksud dideskripsikan sebagai anti sosial, borderline, histrionic, narcisistic.
Beberapa tehnik dilakukan dalam DSM untuk mengemukakan mengenai psikopat diantaranya adalah wawancara, TAT, Roscach , dan tes lainnya.

Pengamatan saya terhadap tokoh Lecter mengarah kepada kesimpulan bahwa Lecter adalah seorang dengan gangguan kepibadian yang mengarah pada psikopatis. Lecter membunuh korban-korbannya tersebut tanpa rasa bersalah dia menikmati semua yang dilakukannya dari mulai menusuk korban, melihat korban lemah, melihat korban takut, dan melakukan kanibalisme. Lecter melakukan semuanya secara sadar dari mulai menikmati nya, membunuh dan memakan korbannya sendiri pada setiap pembunuhannya. Seperti diatas dikatakan bahwa DSM IV tidak mengklasifikasikan gangguan psikopat secara terpisah dan memasukkannya kedalam kategori personality disorder namun dari 10 personality disorder yang diklasifikasikan dalam DSM IV saya rasa dapat mewakili pribadi psikopat yang dimiliki Lecter.


Berikut definisi dari beberapa gangguan kepribadian yang dikemukakan DSM IV (dalam APA.org ) dan merepresentasikan tokoh Lecter:


a.       Anti social Personality disorder :
Is a pattern of disregard for, and vilation of, the rights of other
b.      Borderline Personality Disorder is a pattern of instability in interpersonal relationship , self image , affects, and marked impulsivity.
c.       Historic personality disorder is pattern of excessive emotionally and attention seeking.

d.      Narcisistic personality disorder is a pattern of gandiosity, need for admiration, and lack of empathy.
Artinya DSM IV menjawab bahwa gangguan yang dimiliki Lecter ini termasuk pada kategori Personality disorder yang kita sering sebut psikopat dan termasuk didalamnya dicirikan oleh beberapa ganguan kepribadian yang dikemukakan di paragraf sebelumnya.
Tentang psikopat sendiri sebenarnya jelas pada istilahnya dimana psyche adalah jiwa dan patologi adalah penjelasan mengenai gangguan, namun psikopat bukan berarti schizofrenia atau gila, karena schizofren dalam DSM IV sendiri dikatakan mengalami penurunan kesadaran dicirikan dengan mengalami waham dan delusi namun psikopat sendiri saat melakukan kejahatan melakukannya dalam kesadaran penuh, hal ini diperlihatkan Lecter saat membunuh dan menikmati proses membunuh tersebut.
Psikopat dalam penelitian-penelitian kali ini sangat diidentikkan dengan perilaku kekerasan dipengaruhi oleh bias pengetahuan awam mengenai psikopat sendiri dan tidak mengacu pada penelitian sebelumnya ataupun DSM IV. Hare (1999) menyusun dimensi mengenai psikopat berdasarkan DSM menjadi dua dimensi yaitu faktor afektif/ interpersonal dan faktor gaya hidup sosial yang menyimpang contohnya yang sering ditemui diantaranya adalah kekerasan, dengan sifat-sifat yang ditunjukannya adalah lack of empathy, shallow emotion, manipulativeness lying, egocentris , low of tolerance, persistent violation personal norms.

Etiologi Psikopatis Lecter
 Dalam bahasan Etiologi akan membahas alasan lecter memiliki kepribadian sebagai seorang psikopat. Hare mengemukakan mengenai alat ukur yang mengukur konstruk psikopat PCL-R namun itu hanya bisa mengklasifikasikan siapa yang psikopat dan siapa yang bukan, tidak bisa untuk mengetahui penyebab kenapa seseorang menjadi psikopat seperti Lecter.  Penyebab seseorang mengalami gangguan kepribadian psikopat (anti social) ini atau gangguan lain pada umumnya tidak lepas dari faktor biologis dan faktor lingkungan. Faktor biologis adalah faktor bawaan dan keadaan fisiologis individu. Dalam film ini tokoh lecter tidak diceritakan mengenai pemeriksaan fisiologis namun untuk mengetahui keadaan fisilogis seorang psikopat  Litman (2004) menjelaskan bawha seseorang dengan gangguan psikopat  memiliki kelainan neurologik pada syndrome neurotic violence, dan Raine et al (2003) mengungkapan bahwa ada kelainan pada corpus collosum.

Faktor diluar faktor biologis dikemukakan oleh Krikman (2002) bahwa seseorang yang mempelajari alasan seseorang menjadi psikopat dengan mempelajari lingkungan sekitar sebelum dia melakukan kejahatan atau pada masa kanak-kanak , hal yang dikemukakan oleh Krikman sejalan denggan teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Freud bahwa manusia berkembang memenuhi tuntutan instingnya dan kepribadian manusia tersebut sangat ditentukan oleh perkembangan yang dilalui pada masa kanak-kanak. Dikatakan mereka yang mempunyai kecenderungan psikopat punya latar belakang masa kecil yang tidak memiliki peluang untuk perkembangan emosinya secara optimal, sehingga emosinya tidak berkembang dengan baik sehingga anak tumbuh menjadi seseorang yang tidak berempati   dan tidak punya kata hati (conscience).

Hal ini diperlihatkan melalui perkembangan yang dilalui Lecter saat kecil,  Lecter kecil yang menjadi korban  kejahatan perang harus melihat perilaku sadisme yang dihadapinya dan tindakan agresif lainnya, dia tidak sempat belajar mengenai nilai-nilai atau norma-norma masyarakat yang baik demi penanaman super ego karena pada masa itu norma masyarakat tidak berlaku saat perang. Akhirnya komponen kepribadian lain yang lebih menonjol dalam hal ini Freud menyebutnya sebagai Id berisi dorongan agresi dan seksual (Feist & Feist, 2008). Kenapa Lecter penting mendapat pemahaman akan norma karena jika norma tersebut sudah terinternalisasi dalam diri Lecter akan ada fungsi superego yang bekerja , Freud mengatakan ada fungsi super ego yang bekerja ketika menghadapi tuntutan id yaitu Conscience atau hati nurani yang mana ditujukan degan rasa bersalah ketika tidak bisa menyeimbangkan id , dan ada ego ideal yaitu keinginan untuk selalu berbuat baik sesuai norma. Lecter tidak mendapat kesempatan untuk memahami nilai-nilai super ego akibatnya Id dalam diri Lecter yang lebih dominan dan mengendalikan Lecter sehingga dia tumbuh sebagai seorang psikopat.

Social Learning theory (Bandura dalam Feist& Feist, 2005) mengemukakan penyebab kepribadian maladaptive adalah karena adanya observational learning, dimana individu melakukan observasi kepada kepribadian dan kejadian tertentu dan menirukan kepribadian tersebut. Dalam observational atau belajar imitasi Lecter mempelajari perilaku sadisme tersebut dari pelaku-pelaku kejahatan kanibalisme pada adikya Mischa. Perhatian (attention) Lecter terpusat pada bagaimana penjahat tersebut melakukan kejahatan kanibalisme pada adiknya, Kemudian setelah memperhatikan semua kejadian tersebut Lecter menyimpannya dalam memori dalam bentuk potongan-potongan ingatan yang tidak beraturan, setelah semuanya beraturan tumbuh keinginan dalam diri Lecter untuk melakukan hal yang sama dimulai dari kaburnya Lecter dari sekolah dan memutuskan untuk balas dendam dengan cara yang sama.  Semua hal yang dilakukan lecter saat  membunuh dilakukan dengan metode yang sama yakni dengan membuat korban kesakitan, memakan bagian dari tubuh korban, dan menertawakan bahkan sampai mengeluarkan nyanyian saat membunuh korban. Lalu perilaku maladaptive Lecter tersebut bertahan sampai dewasa dan bahkan setelah korban-korban dendamnya habis karena lecter tidak mendapatkan punishment dan mendapatkan dukungan dari bibi nya saat itu.




Proses peniruan juga terlihat dari film-film silence of the lamb dimana pelaku ke-2 menirukan karakter Lecter dalam melakukan kejahatan dengan persis sama, dalam Red Dragon pelaku juga menggunakan cara yang sama untuk membunuh korban-korbannya , namun menariknya dalam red dragon Lecter menjadi tokoh protagonis dan yang menjadi penjahat pada film ini memiliki latar belakang kehidupan menyakitkan yang sama-sama mengalami penganiayaan seperti lecter ketika kecil melalui neneknya. Merasa memiliki kesamaan dan mengidolakan Lecter tokoh jahat tersebut menjadi duplikat Lecter sebagai psikopat dengan membunuh keluarga-keluarga secara kejam dan melakukan kanibalisme. Hal ini mengindikasikan juga bahwa perilaku maladaptive dan karakter psikopatisme yang dimiliki Lecter dapat menular melalui pembelajaran imitasi yang dijelaskan bandura, bahwa kepribadian seseorang berkembang karena seseorang mengamati dunianya dan berinteraksi dengan dunianya (Feist & Feist , 2008).

C.     Metode yang digunakan tokoh ke-2 untuk mengungkap kejahatan
C.1. Hannibal Rising
Diceritakan dalam kasus ini adalah kasus pembunuhan berantai dan kanibalisme dengan metode pembunuhan yang sama yang dilakukan oleh Lecter muda. Saat itu pembunuhan pertama adalah pada tukang daging, agen FBI ini mengungkap kasus pertama dengan observasi tehnik observasi yang dilakukan adalah observasi sistematis Disebut juga observasi terstruktur; ada kerangka yang memuat faktor-faktor dan ciri-ciri khusus dari setiap faktor yang diamati. Dapat dilihat pada kasus pertama agen FBI tersebut menyusun hal-hal yang akan diamati saat mengungkap kasus mulai dari mencari profil mengenai korban tersebut , mencari tahu musuh orang tersebut, dan mencar tahu terahir korban terlibat perseteruan dengan siapa saja. Melalui observasi tersebut mengerucut pada salah satu nama yaitu  Hannibal Lecter , Hannibal Lecter dimintai keterangan melalui wawancara lengkap dengan lie detector namun tidak ada indikasi menunjukan keterlibatan Hannibal Lecter dalam kasus ini tidak ada False Confession (pengakuan yang salah dari Hannibal yang mungkin terjadi ketika penyidik memberikan pertanyaan yang menyudutkan pelaku, maaf keluar konteks tapi fenomena false confession ini terjadi pada kasus pembunuhan oleh Hafid dan Pacarnya yang saat penyidikan mengalami kelelahan psikologis dan fisik yang tidak seimbang menyebabkan mereka mambuat pengakuan yang salah). Kembali ke Hannibal Lecter pada penyidikan pertama Lecter lolos dan merasa puas karena tidak bisa dihukum namun mengagetkan ternyata kepala korban awalnya yang ada di hutan tempat lecter kecil menyaksikan kejadian kanibalisme pada adiknya ada di rumah dan diketahui oleh bibi nya tanpa melaporkannya kepada polisi dan memakluminya karena motif Lecter yang bisa dibenarkan.

Kecurigaan pada agen FBI tersebut belum hilang dia memutuskan untuk mengobservasi kembali keanehan-keanehan pada Hannibal Lecter, tempat tersebut ahirnya diketahui adalah tempat kejahatan perang kanibalisme berlangsung lalu menyudutkan pada  salah satu nama yang terlibat ketika itu adalah Hannibal Lecter , kemudian bermunculan kasus-kasus sama dengan metode yang sama dan orang-orangnya saling berkaitan dengan kejadian kejahatan perang yang dialami Hannibal Lecter , memperkuat hasil observasi yang dilakukan terus menerus dan sistematis dengan data yang didapatkan oleh agen FBI tersebut untuk akhirnya menangkap  Hannibal Lecter dengan kasus Pembunuhan Berencana, sadisme, dan kanibalisme, dan mengungkap kepribadian Lecter yang seorang psikopat.




Silence Of the Lamb

 Prosedur yang digunakan untuk mengungkap dalang pembunuhan dan seorang psikopat sekaligus penjahat seksual yang kejam berikutnya yang dilakukan oleh agen FBI wanita dalam kasus kali ini adalah dengan melakukan wawancara dan observasi. Wawancara yang dilakukan oleh agen FBI tersebut adalah tipe wawancara terstruktur karena sebelumnya agen FBI ini sudah diberikan baseline apa saja yang akan ditanyakan kepada Lecter didalam sel yang diberikan oleh Psikiater yang menangani Lecter, pedoman wawancara itu sebelumnya didapat melalui observasi pada keterkaitan Lecter dengan kasus ini, dari mulai metode yang sama, jenis senjata yang digunakan adalah pisau dan pistol dan ada bagian tubuh yang hilang untuk dimakan, tempat, dan yang lebih mendukung adalah data bahwa pelaku merupakan pasien Lecter sebelumnya dan memiliki pengalaman masalalu yang menyedihkan. Saat mewawancarai Lecter agen FBI ini tidak mudah mendapatkan data karena Lecter memberikan syarat kalau dia mau memberikan keterangan siapa pelakunya jika agen tersebut bersedia mencertakan pengalaman masa kecilnya. Observasi dan wawancara menghasilkan bahwa memang ada keterkaitan antara Lecter dengan pelaku kejahatan tersebut dan berkat keterangan Lecter juga observasinya tersebut pelaku kejahatan berhasil tertangkap oleh agen FBI tersebut dan putri senator tersebut terselamatkan. Mengenai kenyataan bahwa semua kasus pembunuhan kanibalisme yang terjadi atas arahan Lecter dalam penjara terungkap dalam Film Red Dragon.

Red Dragon , agen FBI ini mengungkap kejahatan dengan metode yang sama yaitu observasi dan wawancara , observasi yang dilakukan adalah pada Lecter yang ternyata juga memiliki hubungan dengan kasus ini, pelaku adalah seseorang yang memiliki karakteristik masa lalu yang menyakitkan seperti Lecter, korban-korban yang dibunuh pun dengan metode yang sama sadisnya dengan Lecter. Observasi yang dilakukan bukan hanya pada pelaku dan Lecter tapi dilakukan juga pada TKP pembunuhan pertama dan kedua, dalam ini agen FBI menggunakan tehnik proyeksi dengan membayangkan kejadian yang terjadi melalui foto-foto dan petunjuk yang ada di tempat kejadian. Dengan menemukan cara membunuh tersebut dan simbol yang menggambarkan tentang kehidupan kembali red dragon semakin meyakinkan agen FBI tersebut bahwa pelaku yang melakukan ini memiliki kepribadian yang terpecah menjadi dua yaitu kepribadiannya sebagai bukan pelaku dan kepribadiannya sebagai pelaku kejahatan yang melambangkan simbol kebangkitan red dragon tersebut. Semua petunjuknya itu mengarah pada salah satu musium yang menyimpan cerita tentang red dragon tersebut, observasi berikutnya terletak pada petunjuk video yang ada di TKP dan atas instruksi Lecter untuk menjawab teka-teki siapa pelaku dalam video tersebut, akhirnya mengarah pada suatu instansi tertentu yang mengirimkan video dokumentasi keluarga tersebut dan mendapatkan nama. Tapi sebelumnya Tim penanganan kasus tersebut menggunakan metode unik untuk menjebak klien tersebut dengan membuat berita mengenai Lecter dan memancing pelaku keluar namun jebakan tersebut disadari pelaku dan malah menjatuhkan korban, tapi akhirnya berdasarkan hasil yang didapat melalui observasi dan wawancara tersebut didapatkan siapa pelakunya  dan keterkaitannya dengan Lecter.






           
Test Tambahan yang diberikan pada Lecter:

            Dalam salah satu scene Lecter sempat diinstruksikan untuk test TAT (Tematic Aperseption Test) alah satu tes proyeksi yang dikembangkan oleh Murray. Untuk mendiagnosis gangguan kepribadian, dalam scene ini terlihat lecter malah melipat kertas tersebut menjadi origami burung-burung-an. Hal ini menyulitkan psikiatris Lecter untuk melakukan interpretasi.



Kesimpulannya

Lecter mengalami ganguaan kepribadian yang mengacu pada DSM IV termasuk kedalam Antisocial Personality Disorder. Dicirikan dengan suka menyendiri, low of empathy, sadism, kreatif.  Karakter dan kepribadian pembunuh ini didapatnya karena pengalaman masa kecil yang menyakitkan dan tidak adanya nilai-nilai sosial dalam superego hingga dorongan id yang lebih dominan. Banyak orang menganggap gangguan seperti Lecter adalah Psikopat, namun dalam DSM sendiri tidak mengelompokkan gangguan psikologis Lecter kedalam psikopat secara terpisah. Psikopat hampir seluruhnya diidentikkan dengan kekerasan, namun sebenarnya ada juga yang tidak. Psikopat sebenarnya hanya istilah antara psyche (jiwa) dan patologi (gangguan) secara bahasa diartikan sebagai gangguan jiwa , namun disini bukan skizofrenia karena psikopat sendiri saat melakukan kekerasan masih sadar beda dengan skizofren yang memang sudah mengalami penurunan kesadaran.

Apakah seseorang memiliki kecenderungan untuk psikopat? Jawabannya IYA  sebelumnya Eyesenck mengatakan bahwa keseluruhan manusia memiliki seluruh komponen kepribadian P, E, dan N hanya kadarnya yang berbeda. Berbahaya nya psikopat ini juga bisa dipelajari contohnya dengan meniru model psikopat yang mendapatkan reward contohnya Lecter.  Prosedur yang ddilakukan untuk proses penyidikan dalam film ini lebih menggunakan metode ovservasi yang sistematis dan wawancara yang terstruktur. Selain itu prosedur lain yang digunakan adalah dengan alat tes psikologi contohnya TAT pada Lecter. Setiap manusia memiliki kecenderungan berbeda pada beberapa hal terutama kepribadian, penting adalah mengenali kepribadian secara mendalam untuk menghindari gangguan pada kepribadian. Seperti HIV atau TBC yang kronis dan menular kadang-kadang memaksa kita tidak bisa memperbaikinya dan mempasrahkan namun dari cerita ini saya mendapat insight tentang kepentingan untuk melakukan diagnostik baik pada korban maupun prilaku. Pada korban contohnya kekerasan seks ini harus pendiagnosaan lebih awal untuk indikasi gangguan dan pastikan tidak menular, untuk pelaku agar diberikan penyesuaian hukuman dan pengobatannya. Namun proses mengenali diri tersebut sebenarnya hanya bisa dilakukan individu sendiri sebagai tuan rumah. Dalam film ini juga memberikan insight bahwa orang sejahat Lecter pun memiliki kesempatan membuka diri dan berubah menjadi lebih baik, yang perlu dilakukan adalah upaya pengobatan psikis oleh ahlinya disamping semua proses hukum.







Daftar Pustaka

Rita L. Atkinson & Richard C. Atkinson & Ernest R Hilgard. 2001. Pengantar Psikologi 1. (edisi ke-8 Jilid 2). Penerbit Erlangga; Jakarta.
Feist & Feist. (2010). Theories of Personality. (7th ed). Avenue Americas; New York.